safitri putri cahyawati minat KIA-KR Tugas ISP social determinant

Tugas social determinant

Judul jurnal: Oyefabi, A. M., Sambo, M. N., & Sabitu, K. (2015). Effect of primary health care workers training on the knowledge and utilization of intermittent preventive therapy for malaria in pregnancy in Zaria, Nigeria. Journal of Medicine in the Tropics, 17(1), 4.

Saya menyukai artikel ini karena membahas tentang kebijakan yang diambil dalam menurunkan angka kematian ibu yang disebabkan oleh malaria( terutama di daerah yang endemis malaria). Pemerintah Nigeria sebagai social determinant menyadari bahwa malaria pada ibu hamil merupakan salah satu sebab terjadinya angka kematian pada ibu sehingga mengambil kebijakan dengan meningkatkan pelatihan (training) pencegahan primary pada tenaga kesehatan di tingkat pelayanan dalam program intermittent preventive therapy (IPTp) malaria pada ibu hamil.

Berdasarkan penelitian didalam jurnal dikatakan bahwa adanya hubungan yang signifikan dengan meningkatnya pengetahuan dan pelayanan pencegahan primary program intermittent preventive therapy (IPTp) malaria pada ibu hamil di tenaga kesehatan di Negeria setelah mendapatkan pelatihan (training).

safitri putri cahyawati minat KIA tugas Matriks Renewing organisasi

Tugas kebijakan Renewing Pos Persalinan Desa (Polindes)

Nama  : Safitri Putri Cahyawati

NIM     : 15/388219/PKU/15441

Minat   : KIA-KR

 

 

Dalam pelaksanaan kegiatan Polindes, saya lebih memilih organisasi polindes3 karena dengan menjalin kerjasama antara bidan dan dukun di desa dapat meningkatkan pelayanan persalinan ibu hamil. Hal ini disebabkan masing banyaknya ibu hamil dan masyarakat di pedesaan/kampung lebih mempercayai dukun beranak dalam persalinannya. Dengan kerjasama ini persalinan tetap dilakukan oleh bidan di desa dengan tetap ditemani oleh dukun beranak sehingga ibu hamil tetap nyaman dan dapat bersalin dengan sehat dan aman.

Jernita Sinaga/ Peminatan Kesehatan Lingkungan

Nama: Jernita Sinaga/ Peminatan: Kesehatan Lingkungan 2015

Birokrasi Matriks Kesehatan Lingkungan (terlampir )
Program kerja Kesehatan Lingkungan tidak tercapai target karena tidak memuat birokrasi matrik yang terperinci dan sasaran target yang kuran pas terhadap kerja yang tersusun pada matrik teori yang sudah di rancang dan pelaksanaan dilapangan berbeda. pada tugas ini saya mencoba membuat beberapa skenario birokrasi matriks program kesehatan lingkungan mohon bantuan bapak untuk memberikan komentar tentang birokrasi tersebut trimakasi pak.

Destri Sufiyani FETP 2015

Tugas 3 : Jurnal Kesayangan

Putra, A. A. G, Epidemiologi Rabies Di Bali: Analisis Kasus Rabies Pada "Semi Free-Ranging Dog" Dan Signifikansinya Dalam Siklus Penularan Rabies Dengan Pendekatan Ekosistem, (2011), Vol.XXII, No. 78
 
Jurnal ini memberikan kita informasi tentang gambaran penyebab dari rabies di Bali yang sekarang ini masih menjadi masalah serius karena sulitnya memutus mata rantai penularannya. Dari hasil analisis menunjukkan anjing lepasanlah yang menyumbang kejadian rabies tertinggi. Namun, tidak hanya itu, ternyata anak anjing merupakan penyumbang kedua terbesar, hal tersebut menunjukkan harus adanya perhatian serius untuk kedua tipe anjing tersebut. Sering kali program eliminasi anjing tidakl tepat sasaran, justru anjing rumahan yang menjadi target eliminasi.

FARIDZ RAMADAN SIMKES 2015

FARIDZ RAMADAN SIMKES 2015

RENEWING ORGANITATIONS DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

 

 Era globalisasi yang mendunia menyebabkan perubahan yang begitu cepat baik dalam produk baru, pasar baru, cara berpikir dan kompetensi baru serta teknologi baru. Perubahan tersebut dapat menjadi peluang dan/atau tantangan dalam menghadapi persaingan. Perubahan terjadi juga pada organisasi pemerintah (Public Service) diantaranya Badab Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, dan yang lebih diutamakan adalah perubahan STAN menjadi lembaga pendikan tinggi yang terakreditasi oleh Kementrian Pendididkan. Agar tetap survive organisasi/perusahaan dituntut untuk cepat dan tanggap dalam menghadapi lingkungan yang begitu dinamis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ulrich (1997) yang menjelaskan bahwa organisasi dituntut membangun kapabilitas yang baru berupa globalisasi, profitabilitas melalui pertumbuhan, modal intellectual, teknologi dan manajemen perubahan.

"Perubahan", dalam arti luas, adalah respon yang direncanakan atau tidak direncanakan untukmenghadapi tekanan dan membangun kekuatan. Kekuatan teknologi, ekonomi, sosial dan politik telah menyebabkan organisasi memodifikasi pekerjaan selama beberapa dekade. Hal Ini akan menjaditidak realistis untuk menunjukkan adanya kesepakatan universal tentang besarnya, jangka waktu,dan implikasi dari kekuatan ini (Kumar,2003:5).

Perubahan yang direncanakan adalah kegiatan perubahan yang disengaja dan berorientasi tujuan. Sementara perubahan yang tidak direncanakan adalah kegiatan perubahan yang tidak disengaja dan sifatnya hanya kebetulan saja. Untuk menghadapi perubahan yang tidak direncanakan tersebut organisasi membutuhkan fleksibilitas yang luar biasa dan kemampuan organisasi dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan (Robin, 2003:347). Perubahan lingkungan bisnisau di lingkungan kediklatan yang seringkali tidak mampu diprediksi menuntut organisasi/perusahaan untuk mampu belajar dengan cepat, berinovasi secara berkelanjutan, menciptakan strategi-straetegi baru, mendeteksi dengan cepat adanya perubahan trend, membuat keputusan yang tepat dan cepat dalan menangkap peluang bisnis (Mujarudin,2006:4).

Perubahan dalam organisasi meliputi dua orde; orde pertama adalah perubahan yang linear dan berkesinambungan dan orde yang kedua adalah perubahan yang multidimensional, multilevel, tidak berkesinambungan dan radikal. Perubahan radikal dalam transformasi organisasional memunculkan tantangan berat bagi organisasi saat ini, bagaimana organisasi dapat melakukan transformasi organisasional tanpa menimbulkan masalah, atau dampak yang menyakitkan bagi anggota organisasinya. Perubahan tidak selalu bisa diterima oleh seluruh organisasi, agar perubahan tsb tidak menyakitkan, maka perubahan perlu memperhatikan waktu dan tidak dilakukan secara terus menerus (Abrahamson, 2000 dalam Darsono, 2002:80).

Perubahan dalam organisasi bisa dilakukan terhadap struktur organisasi, teknologi, pengaturan fisik dan proses operasi (reengineering), dan perubahan orang. Perubahan organisasi seringkali memiliki dampak negative terhadap individu maupun organisasi disamping dampak positif. Karena itu seringkali resistansi terjadi penolakan baik oleh individu ataupun organisasi. Sumber penolakan terhadap perubahan oleh individu adalah karena kebiasaan, keamanan (karena perubahan penuh dengan ketidak pastian dan ambiguitas), faktor ekonomi, ketakutan yang tidak diketahui dan pemrosesan informasi selektif. Sedangkan sumber penolakan oleh organisasi adalah kelembaman struktur, batas focus pada penolakan, kelembaman kelompok, ancaman keahlian, ancaman untuk menggunakan kekuatan hubungan dan ancama penggunaan alokasi sumber-sumber (Robin 2003:353-354).

Orang yang bertanggung jawab untuk mengelola kegiatan perubahan disebut agen perubahan. Agen perubahan bisa eksekutif senior (CEO), konsultan dari luar, karyawan yang berpengaruh atau manajer.

 

Perubahan dapat menjadi peluang dan/atau tantangan dalam menghadapi persaingan. Perubahan terjadi juga pada organisasi pemerintah (Public Service) diantaranya Badab Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, dan yang lebih diutamakan adalah perubahan STAN menjadi lembaga pendikan tinggi yang terakreditasi oleh Kementrian Pendididkan. Agar tetap survive organisasi/perusahaan dituntut untuk cepat dan tanggap dalam menghadapi lingkungan yang begitu dinamis. Perubahan yang direncanakan adalah kegiatan perubahan yang disengaja dan berorientasi tujuan.

Sementara perubahan yang tidak direncanakan adalah kegiatan perubahan yang tidak disengaja dan sifatnya hanya kebetulan saja Manajemen Perubahan dan Transformasi ; Mendefinisikan perubahan, jenis perubahan, orde perubahan, developmental, transitional dan transformational, dimensi perubahan ,Menjelaskan agen perubahan, peran agen perubahan , Menjelaskan kapasitas organisasi, dimensi capacity to change, Menjelaskan definisi manajemen perubahan, model manajemen perubahan, Menjelaskan hambatan dalam proses perubahan.


sumber dangan modifikasi penulis :

google. com

Faridz Ramadan

Sistem Informasi Management Kesehatan (SIMKES) 2015.


 

FARIDZ RAMADAN SIMKES 2015

FARIDZ RAMADAN SIMKES 2015

TUGAS ILMU SOSIAL DAN PERILAKU
SOCIAL MOVEMENT


Feminist Leaderships Pasca Negara Otoritarian Indonesia

 

Pada masa Orde Baru, dalam model pemerintahan Presiden Soeharto, pengendalian yang sangat ketat diberlakukan terhadap organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi perempuan. Gerakan perempuan dihancurkan secara sistematis dengan memberi stigma terhadap organisasi perempuan progresif seperti Gerakan Wanita Indonesia/Gerwani (Wieringa, 1999). Citra perempuan dalam wacana rezim Soeharto digambarkan pasrah dan patuh atas subordinasi yang dialaminya. Organisasi perempuan yang bisa berkembang pada periode pemerintahan Soeharto adalah organisasi yang difasilitasi oleh pemerintah (disebut Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM) seperti Dharma Wanita, Dharma Pertiwi dan PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), yang diciptakan untuk mendukung kebijakan pemerintah.

 

Pada tahun 1980-an, setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan dasawarsa perempuan yang menandai meningkatnya perhatian terhadap masalah-masalah perempuan, muncul bentuk baru dari gerakan perempuan yaitu organisasi non-pemerintah (ornop), dalam istilah pemerintah Indonesia juga dikenal sebagai LSM- seperti organisasi perempuan yang tumbuh di Jakarta, misalnya Kalyanamitra, yang mengkhususkan diri sebagai pusat informasi dan komunikasi perempuan; Solidaritas Perempuan, dengan fokus kerja sebagai pengorganisasi buruh migran; serta berbagai organisasi yang bekerja untuk isu kesehatan reproduksi, baik di Jakarta maupun di luar Jakarta, seperti Rifka Annisa di Yogyakarta. Pada periode yang bersamaan, kelompok intelektual di universitas mulai membangun Pusat Studi Wanita (PSW) sebagai salah satu elemen gerakan perempuan yang melakukan kajian ilmiah terhadap masalah-masalah perempuan. PSW pertama dibangun pada 1979 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia atas inisiatif beberapa pengajar.

 

Berakhirnya pemerintahan rezim militer Orde Baru pada 1998 ditandai dengan kekerasan massal dan konflik antar kelompok yang menewaskan ratusan orang, dan juga terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan. Puluhan perempuan jadi korban perkosaan dalam kerusuhan Mei tahun itu. Selain kekerasan yang kasat mata, rezim Orde Baru juga mewariskan ketidakpuasan terhadap pembangunan sosial yang terpusat baik secara geografis dan budaya di Jawa. Kelompok kelas menengah yang berpendidikan memiliki potensi menjadi kelompok kepentingan yang kritis, tetapi mereka punya banyak keterbatasan untuk berhubungan dengan kelas bawah. 

 

Kajian yang dilakukan oleh Harris, Stokke dan Tornquist (2004) menunjukkan bahwa banyak gerakan LSM di Indonesia maupun negara sedang berkembang lainnya, yang pada awalnya kekiri-kirian, lalu kemudian mengambil posisi gerakan di tingkat lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Secara bersamaan, gerakan populis yang didukung oleh World Bank yang mendukung proyek neo-liberal juga mengembangkan berbagai strategi politik yang bergerak di tingkat lokal. Mereka bergerak bersamaan dengan momentum desentralisasi politik di Indonesia, dengan mengusung nilai-nilai good governance.


Kedua bentuk gerakan tersebut secara bersamaan mempromosikan demokratisasi dengan berbagai strategi, masing-masing sesuai dengan agenda yang saling tumpang tindih. Gerakan perempuan yang juga di dukung oleh kekuatan global atau ekstra-lokal tersebut ikut andil pula mewarnai dinamika politik di tingkat lokal, dalam pengertian di tingkat kapubaten, provinsi bahkan nasional.

 

Di Asia Tenggara secara umum, termasuk di Indonesia secara khusus, kita temukan banyak kelompok LSM yang didanai oleh World Bank yang bekerja dengan menjalankan agenda neo-liberal seperti 'good governance' (Ungpakorn, 2003). Aktivitas World Bank pada dasarnya bukan hanya bergerak dalam menyuntikkan dana utang kepada pemerintah Indonesia, namun juga ikut aktif dalam mengembangkan proses-proses partisipasi masyarakat sipil untuk berpolitik dalam pembangunan (World Bank, 2000). Dalam konteks ini, World Bank melihat pentingnya peran LSM dalam proses pembangunan jangka panjang dan reformasi ekonomi di tingkat masyarakat, supaya itu tidak berlaku hanya di tingkat institusi ekonomi negara saja. Program seperti Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), yang melibatkan kelompok organisasi Pekka (Perempuan Kepala Keluarga), adalah contoh nyata dari bergeraknya mekanisme 'ekstra-lokal' secara politik dalam mendorong terjadinya perubahan pola relasi kuasa di tingkat individual perempuan, keluarga dan masyarakat. Selain itu, World Bank bersama LSM yang ada di Indonesia, juga aktif dalam mempromosikan perlunya institusi publik yang menjalankan tatakelola pemerintahan yang efektif, transparan dan berakuntabilitas melalui pengawasan publik yang partisipatif.

 

Di dalam konteks desentralisasi, banyak pemerintahan di tingkat daerah yang masih bertahan dengan karakter tidak demokratis dalam mengelola pemerintahan daerah, baik itu dengan menghadirkan politik komunitarian, maupun dengan praktik kekuasaan yang sifatnya abusive. Kekuatan LSM juga mengkritisi praktik-praktik tersebut, namun belum banyak yang berubah — bahkan pemerintah pusat seringkali membiarkan hal itu terjadi. Studi yang dilakukan oleh Rodan, Hewison dan Robison (2006) menunjukkan bahwa keberadaan rezim seperti demikian sangat sulit untuk dilucuti menjadi demokratis karena di dalamnya terkait dengan pengaturan ekonomi, sosial dan kuasa politik yang mempertahankannya. LSM perempuan yang berhadapan dengan rezim seperti itu tentu saja memiliki strategi politik gerakan yang berbeda dengan yang dilakukan di daerah lainnya, dalam mendorong terjadinya perubahan ke arah memberi kesempatan bagi perempuan untuk memiliki akses ke ranah publik secara politis. Dalam konteks tersebut, gerakan sosial perempuan pun ikut andil dalam proses desentralisasi, melalui gerakan di bidang seperti anggaran partisipatif, pengarusutamaan perspektif gender dalam anggaran dan politik, gerakan anti-diskriminasi terhadap perempuan, dan gerakan sosial yang menaruh perhatian terhadap kesehatan reproduksi perempuan. Mereka terlibat aktif dengan sumber-sumber ekstra-lokal, baik yang berkarakter mendukung proyek neo-liberal maupun yang mencurigainya. Hal ini menunjukkan Indonesia sebagai ranah dari pertarungan banyak kekuatan ekstra-lokal yang hendak mempengaruhinya, yang tentu saja mempengaruhi bentuk-bentuk relasi kuasa dan pola kekuasaan yang dipraktikkan, maupun yang mempengaruhi gerakan sosial perempuan tersebut.

 

Kajian dan penelitian tentang organisasi perempuan di Indonesia sebetulnya sudah cukup banyak dilakukan oleh akademisi dan aktivis perempuan, terutama mereka yang berasal dari luar Indonesia. Sebut saja Cora Vreede-de Stuers, Susan Blackburn dan Saskia Wieringa. De Stuers menitikberatkan diri pada kajian terhadap organisasi perempuan di Indonesia sejak masa kolonial Belanda, atau pada tahun 1920-an. Seiring dengan semangat Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928, Kongres Perempuan yang pertama diselenggarakan pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Sementara itu, Susan Blackburn dan Saskia Wieringa melanjutkan kajian mengenai gerakan perempuan di Indonesia dengan melihat bagaimana kegiatan organisasi perempuan sejak kurun 1920-an itu berlanjut pada 1965, dan situasinya pada masa awal Orde Baru.

 

Belum banyak kajian tentang organisasi perempuan dilakukan oleh pemikir perempuan Indonesia. Sukanti Soeryocondro, salah seorang aktivis dan akademisi perempuan Indonesia, adalah pionir dalam upaya mendata organisasi perempuan yang berkiprah dalam kegiatan mengatasi persoalan perempuan sejak tahun 1920-an. Bukunya, Potret Pergerakan Wanita di Indonesia, merupakan terbitan pertama yang menjadi klasik dan rujukan bagi pengetahuan mengenai gerakan perempuan di Indonesia. Belum terlalu banyak jumlah kajian atau penelitian yang diterbitkan, yang dilakukan oleh para aktivis dan pemikir Indonesia mengenai gerakan perempuan di Indonesia. Upaya yang telah diterbitkan sejauh ini lebih merupakan analisis spesifik mengenai isu tertentu, seperti program keluarga berencana, kebijakan pembangunan dan wajah gerakan perempuan pasca masa Orde Baru, atau pasca otoritarianisme di Indonesia. Hal yang menarik untuk ditengarai adalah kesepakatan yang diambil mengenai persoalan perempuan yang harus secara kolektif diatasi pada masa 1920-an, seperti masalah perkawinan, terutama poligami dan perceraian, masalah pendidikan, serta penghapusan perdagangan perempuan dan anak-anak. Masalah-masalah ini tampaknya sampai saat ini masih merupakan isu yang ditangani banyak organisasi perempuan di Indonesia.

 

Penelitian yang dilakukan Women Research Institute (WRI) merupakan upaya untuk memaparkan bukan saja organisasi perempuan dan kerjanya, tetapi juga gambaran mengenai kepemimpinan perempuan yang dianggap sesuai bagi organisasi perempuan di Indonesia. WRI memilih lima wilayah di Indonesia yang mewakili gambaran tentang upaya organisasi perempuan dalam mengatasi persoalan-persoalan perempuan di seputar kehidupan mereka. Selain itu, tentunya penelitian ini juga bertujuan untuk mendapat gambaran atas isu dan tantangan persoalan perempuan yang tengah, atau akan, dihadapi oleh organisasi perempuan.

 

Seperti yang telah disebutkan, studi tentang kepemimpinan perempuan, lebih spesifik lagi mengenai aspek "kepemimpinan feminis" di Indonesia pasca otoritarianisme, belum banyak dikaji dalam konteks peran mereka pada proses transformasi sosial yang lebih luas. Studi Srilata (2010) menawarkan analisis mengenai kepemimpinan perempuan dengan melihat inti yang terkandung di dalam kekuasaan, nilai, politik dan praktik, di mana kekuasaan memiliki sifat yang tampak, tersembunyi dan tidak tampak. Menurutnya, kekuasaan yang tampak melibatkan siapa yang terlibat dan siapa yang tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan publik. Kekuasaan yang tersembunyi dapat dilihat dari agenda setting dengan mengurai siapa yang mempengaruhi agenda tersebut, dan bisa disampaikan ketika agenda tersebut bekerja di tingkat public maupun private. Studi Srilata, yang juga membahas nilai dari kekuasaan itu, haruslah diletakkan dalam konteks di mana nilai itu berada. Jika kita meletakkan nilai kuasa itu sebagai berada dalam lingkungan kekuatan 'ekstra-lokal' dan lokal, maka nilai itu akan menuntun tindakan-tindakan yang juga ikut dipengaruhi oleh konteks tersebut. Jika demikian, aspek kuasa, yang memiliki dimensi 'politik dan tujuan' (politics and purpose) dalam transformasi sosial dari feminist leadership, juga akan bersinggungan dengan aspek konteks global dan lokal.

 

Proses transformasi sosial di Indonesia pada dasarnya tidak dapat dilihat hanya dalam konteks yang sempit. Kita perlu melihatnya dalam konteks transformasi yang terkait dengan penguatan lokal dan pengaruh global. Penguatan lokal di Indonesia terkait dengan proses desentralisasi, dan penguatan global merupakan pengaruh politik dan ekonomi internasional di Indonesia. Dalam hal ini, aspek politik dan kultural dari globalisasi, maupun penguatan lokal yang terkait dengan proses ekonomi di satu sisi dan ke-kuasaan di lain pihak, merupakan kenyataan pasca-reformasi. Kondisi ini merupakan setting yang penting untuk melihat 'transformational feminist leaderships' (Srilata, 2010), seperti apa yang muncul dalam gerakan sosial untuk melakukan perubahan-perubahan sosial yang bermakna. Lebih lanjut, kita juga dapat melihat bagaimana kemampuan transformasional tersebut diterapkan dalam proses desentralisasi politik dan ekonomi di setiap kabupaten.

 

Kekuatan global ekonomi dan politik di Indonesia secara jelas telah memberi dampak terhadap desentralisasi kekuasaan Negara, dan tumbuhnya kekuatan non-Negara yang semakin kuat. Goetz (2009) melihat bahwa agenda good governance, yang diterapkan melalui desentralisasi, diharapkan mendorong terjadinya perbaikan terhadap pemahaman akan kebutuhan dan pemberian layanan yang baik, termasuk bagi perempuan. Agenda setting tersebut telah mendorong sejumlah organisasi perempuan non-pemerintah untuk masuk dalam aras kerja service provider. Selain itu, program seperti PNPM Mandiri juga disambut secara partisipatif oleh organisasi basis non-perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan partisipasi perempuan baik di tingkat nasional maupun lokal. Dalam konteks tersebut, tampak bahwa kekuatan ekstra-lokal dan lokal bersinergi memberikan ruang yang bermakna bagi perempuan untuk berorganisasi.

 

Pendekatan Srilata (2010) secara kritis menyajikan bagaimana kondisi kontekstual yang ada ikut mempengaruhi keseluruhan proses dan praktik dari kepemimpinan feminis yang transformasional. Organisasi perempuan non-pemerintah di lima wilayah penelitian menunjukkan adanya peran perempuan yang semakin menguat, meskipun kesetaraan gender secara substansi belum tercapai. Apa yang terjadi di lima wilayah penelitian menunjukkan bahwa peran organisasi perempuan telah mengafirmasi peran perempuan dalam skala tertentu, karena mereka secara institusional memiliki kemampuan untuk membangun organisasi berbasis perempuan. Hal ini penting, mengingat Goetz juga memiliki catatan bahwa tatakelola pemerintahan yang sensitif gender tidaklah dipecahkan melalui representasi maupun aksi afirmasi yang mendorong perempuan dalam politik, namun justru dalam reformasi institusional terhadap sektor publik. Artinya, implementasi kebijakan keadilsetaraan gender menuntut perbaikan kapasitas sektor publik. Akuntabilitas sektor publik dalam hal ini menjadi keniscayaan yang harus dilakukan. Jika dilihat dari studi yang dilakukan di lima wilayah, tampaknya peran perempuan dalam akuntabilitas sektor publik belum terjadi secara meluas. Organisasi perempuan non-pemerintah hanya memiliki akses dan kerjasama dalam penyelenggaraan kegiatan untuk perempuan. Mereka belum terlibat dalam proses penganggaran program pembangunan. Kalaupun mereka terlibat aktif, biasanya hanya dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

 

Hasil penelitian di lima wilayah menunjukkan kesamaan dengan studi di tingkat lokal yang dilakukan oleh Kerkvliet dan Mojares (1991:11) di Filipina. Kajian tersebut menunjukkan bahwa komunitas lokal pada dasarnya tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di tingkat nasional dan perkembangan dunia, namun juga mereka secara aktif merekondisikan diri mereka sendiri melalui keterlibatan sistem 'ekstra-lokal' (kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dari luar kabupaten/kota, seperti ornop) yang muncul dalam berbagai bentuk gerakan masyarakat sipil. Organisasi-organisasi seperti Hapsari, Damar, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK), Totalitas, Jaringan Perempuan Usaha Kecil (Jarpuk), Solidaritas Perempuan dan lainnya menujukkan adanya interaksi mereka dengan sumber dana global. Ini adalah bagian dari proses transformasi sosial dalam gerakan perempuan di Indonesia. Di Indonesia, kita dapat melihat peranan organisasi masyarakat sipil dalam bentuk LSM perempuan di tingkat kabupaten/kota dengan berbagai kegiatan yang meliputi penelitian, pemberdayaan dan advokasi. Semua LSM tersebut didanai dengan uang dari kekuatan ekonomi global seperti The Ford Foundation, World Bank, The Asia Foundation, Tifa Foundation, Hivos, Partnership for Good Governance, Oxfam, Friedrich Ebert Stiftung, Friedrich Naumann Stiftung, dan sebagainya. Semua lembaga itu adalah kekuatan ekstra-lokal yang hadir di tingkat lokal dalam berbagai bentuk transformasi sosial, kultural maupun politik.

 

Dengan demikian, dinamika kuasa lokal, termasuk peran kepemimpinan perempuan, perlu dipahami dalam konteks yang luas melibatkan berbagai pihak dalam proses transformasi tersebut, sehingga agenda-agenda kuasa dan bentuk-bentuk kuasa yang dijalankannya dapat dipahami secara kontekstual. Studi dari Hines (2000), Harris, Stoke dan Tornquist (2004) dan Abdullah (2005), misalnya, pada dasarnya berangkat dari pemahaman yang menjelaskan bahwa globalisasi akan memberi dorongan terhadap perubahan relasi kekuasaan di tingkat politik seperti demokratisasi di tingkat institusional. Dalam hal ini, perubahan tersebut mengkondisikan nilai-nilai politik dan kultural (termasuk relasi gender), dan gerakan menuju proses-proses politik berubah menjadi semakin transparan. Lebih dari itu, Goetz (2009) juga yakin bahwa globalisasi memperluas alternatif kultural dan politikal bagi perempuan yang mendorong terwujudnya berbagai bentuk ruang partisipasi, yang sebelumnya jarang ditemukan. Hal ini tentu penting untuk dicatat. Namun perlu diingat bahwa hal itu juga ikut mendorong munculnya berbagai bentuk 'respons lokal'. Respons tersebut termanifestasi melalui gerakan yang mungkin kontraproduktif terhadap terbukanya ruang bagi perempuan. Misalnya muncul dan berkembangnya gerakan yang bersifat komunitarian dan kultural seperti organisasi keagamaan dan berbagai peraturan daerah yang berbasis agama, seperti di Kota Padang, maupun kekuatan ulama lokal di Lombok.

 

 

KOMENTAR :

Tulisan ini merupakan paparan mengenai kepemimpinan perempuan, bagian dari Penelitian Feminist Leaderships Pasca Negara Otoritarian Indonesia dalam Mempengaruhi Gerakan Sosial dan Korelasinya dengan Peningkatan Kesejahteraan Perempuan - Studi Kasus dari Lima Wilayah: Jakarta, Lampung, Sumatera Utara, Padang dan Lombok.

 

Penelitian ini mencoba melihat dan memahami bentuk-bentuk kuasa perempuan yang muncul dalam gerakan sosial, dan implikasi sosial, budaya dan politik, baik di tingkat individu, keluarga, kelompok masyarakat sipil maupun masyarakat secara umum. Serta faktor-faktor seperti ekonomi dan politik global maupun lokal, dan keterlibatan kekuatan 'ekstra-lokal' dan 'respons lokal' terhadap feminist leaderships di Indonesia pasca otoritarian.

 

 

Sumber :

http://wri.or.id/homepage-id/170-current-project-id/gerakan perempuan/kepemimpinan-perempuan/470-gerakan-perempuan-bagian-gerakan-demokrasi-di-indonesia#.Vla2afnhDIU

 

TUGAS ISP SOCIAL MOVEMENT, Andi Sulaiman, Minat KPMAK

TUGAS SOCIAL MOVEMENT

MATA KULIAH ILMU SOSIAL DAN PERILAKU KESEHATAN

"Peran UGM di Balik Desa Sejahtera Hargotirto"

YOGYAKARTA-Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, telah dicanangkan sebagai desa sejahtera oleh Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono, Rabu (29/9), kemarin. Desa sejahtera ini merupakan binaan dari UGM dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) didukung oleh Pemerintah Provinsi DIY serta Kabupaten Kulon Progo.

Desa Hargotirto berada di Kecamatan Kokap dengan luas wilayah 14.713,3 ha, yang sebagian besar terdiri atas pekarangan dan tegalan. Secara topografi, desa ini masuk dalam wilayah utara Kabupaten Kulon Progo yang berkarakteristik dataran tinggi/perbukitan Menoreh dengan ketinggian antara 500-1000 meter di atas permukaan air laut di mana tanah digunakan sebagai kawasan budidaya konservasi alam.

Di Desa Hargotirto ini pula terletak Waduk Sermo yang merupakan salah satu sumber air baku di Kulon Progo, meliputi 7 (tujuh) buah mata air, Waduk Sermo, dan Sungai Progo. Mata air yang sudah dikelola secara swakelola oleh pihak Kecamatan Kokap adalah mata air Clereng, Mudal, Grembul, Gua Upas, dan Sungai Progo.

Camat Kokap, Santoso, S.I.P., menuturkan secara administrasi Desa Hargotirto dibagi menjadi 14 pedukuhan, 30 rukun warga, dan 70 rukun tetangga. Jumlah penduduk sebanyak 8.337 orang, terdiri atas 4.126 laki-laki dan 4.221 perempuan. Penduduk yang bekerja berjumlah 1.665 orang dengan mayoritas bekerja sebagai petani/peladang dan pengrajin gula kelapa. Gula kelapa sebagai mata dagangan utama masyarakat dijual dalam bentuk cetakan gula jawa asli dan belum dalam bentuk variasi produk olahan sehingga harga jual relatif rendah. “Swadaya masyarakat Hargotirto sangat tinggi, yang ditunjukkan dengan pembangunan sarana-prasarana, seperti jalan kon blok swadaya dan gedung-gedung fasilitas publik, terutama di daerah pedesaan dan pegunungan,” kata Santoso.

Menurutnya, adanya Desa Sejahtera Hargotirto di Kokap menandakan terdapat sinergi yang juga melibatkan masyarakat. Program di Desa Hargotirto selama ini lebih menekankan pada program untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan dengan melibatkan kemitraan antara dukun bayi dan bidan. “Kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi antara masyarakat, UGM, dan SIKIB. Di Hargotirto, selama ini selain peningkatan gizi, juga penurunan angka kematian ibu melahirkan dengan melibatkan kemitraan antara dukun bayi dengan bidan,tambah Santoso.

Jauh hari sebelum pencanangan Desa Sejahtera Hargotirto, Fakultas Kedokteran (FK) UGM juga telah mengirimkan para mahasiswanya untuk mengikuti Kuliah Kerja Kesehatan Masyarakat (K3M). K3M FK UGM ini merupakan bagian integral dari proses pendidikan profesi kedokteran yang disetarakan dengan Kuliah Kerja Nyata Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) UGM dan telah dimulai sejak September 2002. K3M ini wajib diikuti oleh mahasiswa FK UGM yang merupakan calon tenaga kesehatan dari program studi yang ada di FK UGM, yaitu Prodi Pendidikan Dokter, Prodi Ilmu Keperawatan, dan Prodi Gizi Kesehatan Masyarakat. Desa Hargotirto termasuk desa yang pertama kali menjadi wilayah kegiatan K3M, mengingat desa ini masuk wilayah kerja Puskesmas Kokap II, kata Dekan FK UGM, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua LPPM UGM, Prof. Dr-Tech. Danang Parikesit, M.Eng., mengatakan pengembangan Desa Sejahtera Hargotirto merupakan wujud dukungan UGM pada gerakan nasional pemberdayaan masyarakat menuju masyarakat sejahtera melalui pengembangan desa sejahtera. Dalam rangka mendukung Program Desa Sejahtera ini, LPPM UGM telah mengembangkan sejumlah kegiatan dalam kurun waktu 2010 hingga 2011.

Sejumlah kegiatan yang dilakukan oleh LPPM UGM, antara lain, sosialisasi desa sejahtera, pelatihan dan pendampingan tutor/asisten tutor untuk Rumah Pintar, kader PAUD, sosialisasi motor/mobil sehat & mobil hijau kepada lurah dan camat se-Kabupaten Kulon Progo, pengembangan website desa sejahtera, dan fieldtrip International Conference Unesco. Pada Desember mendatang direncanakan digelar workshop dan fieldtrip yang akan diikuti pleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)/peneliti di UGM untuk pengembangan potensi desa sejahtera. “Desa sejahtera merupakan salah satu bentuk dukungan gerakan pemberdayaan masyarakat oleh masyarakat kampus UGM,” kata Danang.

Pada tahun 2011 nanti, direncanakan juga untuk melaksanakan sejumlah program strategis. Pada Januari 2011 akan digelar pertemuan UPPKS Se-DIY bekerja sama dengan BKKBN. Pada Februari 2011, direncakan digelar pertemuan dan koordinasi Karang Taruna se-DIY. Pada bulan Maret 2011 akan dilaksanakan sosialisasi dan implementasi program EfSD bagi perwakilan Karang Taruna, LSM dan instansi/dinas se-DIY. Selanjurnya, program pelatihan dan koordinasi UMKM mitra binaan LPPM UGM untuk wilayah Kabupaten Kulon Progo akan dilaksanakan pada April 2011. Bulan berikutnya, Mei 2011, akan diselenggarakan workshop dan fieldtrip bagi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN PTS/PTN se-Indonesia. Pada Juni 2011, agenda dilanjutkan dengan program simposium internasional mahasiswa: Gama Cendekia, Unit Penalaran Ilmiah, Ditjen Dikti. Kemudian, pada bulan Juli 2011 akan digelar acara Peringatan Hari Anak Nasional di lokasi Desa Sejahtera.

Selanjutnya, pada Agustus 2011, akan diselenggarakan Pagelaran Budaya Hargotirto Menyemarakkan HUT ke-66 RI dan Expo Desa Sejahtera, Pengenalan Desa Sejahtera Kepada KKN-PPM Asing. Pada September 2011, akan digelar koordinasi dan sosialisasi kepada atakeholder swasta. Pada bulan Oktober 2011, akan diadakan sosialisasi dan pengembangan kemitraan kepada perusahaan untuk program CSR. Setelah itu, koordinasi dan evaluasi Program Desa Sejahtera akan dilakukan pada bulan November 2011. ”Selanjutnya, rangkaian kegiatan pendukung program ini akan diakhiri pada bulan Desember 2011, direncanakan Seminar Nasional Program Desa Sejahtera. Jadi, terus akan bersambung dan tidak berhenti setelah pencanangan oleh Ibu Negara kemarin,” imbuh Danang.

Dikatakan Danang, Program Desa Sejahtera juga mendapatkan dukungan melalui sejumlah Program KKN-PPM. Setidaknya sudah disiapkan tujuh periode KKN-PPM UGM yang melibatkan mahasiswa dan DPL. "Dimulai dari KKN-PPM UGM periode 20 September-18 November 2010 hingga periode 11 Oktober-10 Desember 2011,” terangnya.

Lima Pilar Indonesia Sejahtera

Khusus terkait dengan SIKIB, Danang Parikesit menuturkan sebagai organisasi nonpemerintah yang didirikan oleh Ibu Negara, Hj. Ani Bambang Yudhoyono, SIKIB didirikan dengan maksud untuk lebih memberikan perhatian terhadap penyelesaian masalah-masalah pembangunan. Untuk mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat, SIKIB mengembangkan Program Indonesia Sejahtera. Program Indonesia Sejahtera terdiri atas lima pilar utama, yakni: Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Peduli, Indonesia Hijau, dan Indonesia Kreatif.

Pilar Indonesia Sehat, antara lain, dilakukan dengan mengembangkan posyandu balita, posyandu lansia, pengobatan keliling dengan 'mobil sehat', pelayanan KB, penyuluhan kesehatan, Bina Keluarga Remaja (BKB), pengembangan peran PKK, dan penanggulangan pasca-cikungunya.

Sementara itu, program Indonesia Pintar dilakukan dengan mengembangkan program penyiapan & pendampingan tutor 'Rumah Pintar', pendampingan program 'Rumah Pintar', program PAUD, TPA, pelatihan teknologi informasi, dan program gemar membaca.

Pilar Indonesia Kreatif dijalankan dengan mengembangkan program pendampingan kerajinan bambu, pengolahan gula kelapa, pengolahan kakao, pengolahan temulawak, kerajinan pande besi, koperasi simpan pinjam, dan pendampingan dan pengembangan teknologi tepat guna & kewirausahaan.

Berikutnya, untuk Pilar Indonesia Hijau dijalankan melalui reboisasi dengan penanaman tanaman produksi, pendampingan Kelompok Wanita Tani (KWT)-kelompok tani (Kel. Sukatani I dan II, Sumber Mulyo, Andini, Ngupoyo Bugo), kelompok pembibitan, pendampingan kelompok pengelola kolam ikan (Mina Tirta), dan program pengolahan kompos dan sampah organik.

Terakhir, Pilar Indonesia Peduli ditempuh melalui pengembangan Desa Tangguh, pelatihan keselamatan kerja penderes nira, penguatan Karang Taruna, pengembangan seni budaya lokal â€"gamelan, jathilan, ketoprak, dan pengembangan budaya rebana/hadroh/qosidahan. (Humas UGM/Satria)

Sumber : https://ugm.ac.id/id/berita/2655-peran.ugm.di.balik.desa.sejahtera.hargotirto

 

Komentar :

Dalam artikel diatas, dijelaskan tentang program desa sejahtera dimana didalamnya tercakup berbagai kegiatan social membangun desa,terutama dalam aspek kesehatan masyarakat. Dengan melibatkan segenap unsure akademisi kesehatan, kedokteran dari UGM. Program tersebut memiliki urgensi yang baik jika di lakukan secara merata ke desa desa lainnya di Indonesia. Karena mencakup aspek pemberdayaan masyarakat, melibatkan aspek social, kesehatan, teknis, dan infrastruktur di pedesaan, dimana masyarakat di tuntut untuk lebih mandiri dalam upaya menjaga kesehatan dan lingkungan menuju pengembangan desa yang tangguh. Program senada semisal Desa Siaga, sejatinya juga memiliki kapasitas senada dengan program diatas. Dimana aspek social movement dapat diintensifkan dengan lebih baik, melalui upaya pergerakan dan pemberdayaan masyarakat. Di mulai dari pedalaman dan perdesaan.