Dari: Moelyadi Kapuas <moel676@gmail.com>
Tanggal: 1 Januari 2016 19.47
Subjek: Tugas Artikel Social Movement-Molyadi KMPK
Kepada: mhasanbasri.542900@blogger.com
Gerakan Peduli Pengentasan Masalah Gizi
Kekurangan gizi menyebabkan lebih dari setengah jumlah kematian anak di seluruh dunia. Bekerja secara perlahan, terus-menerus, dan seringkali tidak terdiagnosa. Kekurangan gizi adalah situasi darurat yang diam-diam membahayakan anak, wanita serta keluarga, dan pada akhirnya berpengaruh pada kelangsungan hidup bangsa ini. Krisis ini sungguh nyata dan sifatnya terus menerus memiliki implikasi besar terhadap masa depan seluruh anak. Kekurangan gizi mengarah pada kematian dan ketidak mampuan anak dalam skala luas serta memiliki implikasi yang lebih besar. Dengan cara mengganggu perkembangan mental dan fisik, kekurangan gizi merampas seluruh potensi anak sebagai manusia. Banyak anak, dimana keadaan lapar kronis sudah menjadi jalan hidup. Bahkan, anak-anak yang berat badannya kurang sedikit saja, sudah meningkatkan resiko penderitaan.
Masalah gizi dipengaruhi oleh banyak faktor dan kesemuanya saling mempengaruhi. Salah satunya adalah kemisikinan. Kemiskinan dan gizi kurang sangat erat kaitannya. Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat (patologik) yang ditimbulkan karena tidak cukup makan dan dengan demikian konsumsi energi kurang selama jangka waktu tertentu (Harper, dkk, 1986). Keadaan ini disebabkan oleh karena faktor kemiskinan, pendidikan, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, pola asuh konsumsi makanan, pola makan, kepercayaan/tradisi/budaya, dan lain-lain.
Masih tingginya data kasus anak balita gizi kurang dan gizi buruk di Indonesia menunjukkan bahwa program penanggulangan anak balita gizi kurang dan gizi buruk yang dilakukan selama ini belum efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan status gizi dan kesehatan yang telah dicapai selama mengikuti Program TFC (Therapeutic Feeding Centre) atau Pusat Pemulihan Gizi (PPG) yang diharapkan dapat meningkatkan status gizi dan kesehatan anak selama mengikuti Program TFC/PPG sering tidak dapat dipertahankan untuk tetap baik dan sehat setelah bantuan berakhir atau sepulang dari rumah pemulihan gizi.
Informasi tersebut menunjukkan bahwa program penanggulangan anak balita gizi kurang dan gizi buruk yang selama ini dilakukan masih memiliki kelemahan, di antaranya adalah:
1. Keterbatasan daya tampung, ketersediaan sumberdaya manusia dan logistik sehingga tidak semua anak balita gizi buruk dan gizi kurang dapat direhabilitasi.
2. Selama mengikuti program pemulihan anak balita gizi buruk dan gizi kurang, orang tua balita tersebut tidak mampu belajar dan meningkatkan kemampuan atau keterampilan cara merawat anak dan memberi makanan kepada anak. Akibatnya, hasil yang telah dicapai selama mendapat bantuan PMT dan perawatan di rumah sakit atau dengan Program TFC, sering tidak dapat ditingkatkan dan dipertahankan setelah bantuan PMT berakhir atau pulang dari rumah sakit atau puskesmas perawatan.
3. Pemberian bantuan PMT pabrikan cenderung menciptakan ketergantungan dan menghambat kemandirian keluarga anak balita gizi kurang dan gizi.
4. Program penanggulangan anak balita gizi kurang dan gizi buruk belum dilakukan secara terpadu, bersinergi, berkelanjutan, dan berkemitraan, serta belum tercipta kerja-sama yang baik dengan lintas program dan lintas sektor.
5. Program bersifat top-down sehingga tidak secara aktif melibatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program
Persoalan diatas perlu ditindaklanjuti dengan upaya bersama yang melibatkan lintas-program dan lintas-sektor, serta berbasis prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang peduli dengan masalah gizi anak. Partisipasi masyarakat merupakan konsep kebijakan yang memiliki daya tarik dan mempesonakan karena terkait dengan sustainabilitas dan efisiensi dari program kesehatan. Jika diletakkan pada konteks sumber tenaga yang terbatas terutama di pedesaan dan daerah terpencil, ia dapat menjadi strategi utama dan terpenting yang harus digunakan manajer fasilitas kesehatan.
Konsep pembentukan Pos Pemulihan Gizi atau Community Feeding Center (CTC) adalah konsep inovatif yang memobilisasi masyarakat untuk memantau dan mendukung pelayanan kesehatan setempat untuk cepat dan efektif juga membantu orang-orang dengan kekurangan gizi akut di sekitar mereka. Masyarakat diharapkan dapat memobilisasi kemampuan yang ada disekitarnya untuk penanggulangan Gizi Buruk. Bila terjadi karena faktor kemiskinan keluarga yang mampu bisa menjadi orang tua asuh, mencari peluang kerja untuk orang tuanya. Berbagai sektor pemerintahan dengan berbagai program dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan bisa dipadukan. Jumlah Pos Pemulihan Gizi ini masih terbatas jumlahnya bila dapat dikembangkan lebih banyak lagi di daerah diharapkan punya daya ungkit pada status gizi balita.