Contoh Artikel Social Movement-Molyadi KPMK

"The sustainability of community-based therapeutic care (CTC) in nonemergency contexts"

Program Community Feeding  Center (CTC) merupakan terapi perawatan guna mengatasi persoalan gizi berbasis masyarakat yang sudah dikembangkan dibeberapa negara miskin. Pelibatan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kesadaran, perencanaan, pengambilan keputusan, dan manajemen intervensi. Skrining aktif dari penyedian pelayanan kesehatan di tingkat lokal juga sangat penting untuk mendukung program berkelanjutan dan rujukan malnutrisi akut.

Ketika biaya program Community Feeding  Center (CTC) dianalisis , harus diakui bahwa biaya intervensi untuk mengatasi gizi buruk per anak untuk pemulihan mungkin tinggi, tetapi ada beberapa manfaat tidak langsung ke  sistem PHC, termasuk peningkatan kapasitas staf dan rehabilitasi struktur kesehatan , yang tidak diperhitungkan dalam spesifik analisis biaya CTC

 

Referensi:

Gatchell, Valerie, Vivienne Forsythe, and P. Thomas. "The sustainability of community-based therapeutic care (CTC) in nonemergency contexts." FOOD AND NUTRITION BULLETIN-UNITED NATIONS UNIVERSITY- 27.3 (2006): S90.

Tugas Artikel Social Movement-Molyadi KMPK

Gerakan Peduli Pengentasan Masalah Gizi

Kekurangan gizi menyebabkan lebih dari setengah jumlah kematian anak di seluruh dunia. Bekerja secara perlahan, terus-menerus, dan seringkali tidak terdiagnosa. Kekurangan gizi adalah situasi darurat yang diam-diam membahayakan anak, wanita serta keluarga, dan pada akhirnya berpengaruh pada kelangsungan hidup bangsa ini. Krisis ini sungguh nyata dan sifatnya terus menerus memiliki implikasi besar terhadap masa depan seluruh anak. Kekurangan gizi mengarah pada kematian dan ketidak mampuan anak dalam skala luas serta memiliki implikasi yang lebih besar. Dengan cara mengganggu perkembangan mental dan fisik, kekurangan gizi merampas seluruh potensi anak sebagai manusia. Banyak anak, dimana keadaan lapar kronis sudah menjadi jalan hidup. Bahkan, anak-anak yang berat badannya kurang sedikit saja, sudah meningkatkan resiko penderitaan.

Masalah gizi dipengaruhi oleh banyak faktor dan kesemuanya saling mempengaruhi. Salah satunya adalah kemisikinan. Kemiskinan dan gizi kurang sangat erat kaitannya. Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat (patologik) yang ditimbulkan karena tidak cukup makan dan dengan demikian konsumsi energi kurang selama jangka waktu tertentu (Harper, dkk, 1986). Keadaan ini disebabkan oleh karena faktor kemiskinan, pendidikan, ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, pola asuh konsumsi makanan, pola makan, kepercayaan/tradisi/budaya, dan lain-lain.

Masih tingginya data kasus anak balita gizi kurang dan  gizi buruk di Indonesia menunjukkan bahwa program penanggulangan anak balita gizi kurang dan gizi buruk yang dilakukan selama ini belum efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan status gizi dan kesehatan yang telah dicapai selama mengikuti Program TFC (Therapeutic Feeding Centre) atau Pusat Pemulihan Gizi (PPG) yang diharapkan dapat meningkatkan status gizi dan kesehatan anak selama mengikuti Program TFC/PPG sering tidak dapat dipertahankan untuk tetap baik dan sehat setelah bantuan berakhir atau sepulang dari rumah pemulihan gizi.

Informasi tersebut menunjukkan bahwa program penanggulangan anak balita gizi kurang dan gizi buruk yang selama ini dilakukan masih memiliki kelemahan, di antaranya adalah:

1.   Keterbatasan daya tampung, ketersediaan sumberdaya manusia dan logistik sehingga tidak semua anak balita gizi buruk dan gizi kurang dapat direhabilitasi.

2.   Selama mengikuti program pemulihan anak balita gizi buruk dan gizi kurang, orang tua balita tersebut tidak mampu belajar dan meningkatkan kemampuan atau keterampilan cara merawat anak dan memberi makanan kepada anak. Akibatnya, hasil yang telah dicapai selama mendapat bantuan PMT dan perawatan di rumah sakit atau dengan Program TFC, sering tidak dapat ditingkatkan dan dipertahankan setelah bantuan PMT berakhir atau pulang dari rumah sakit atau puskesmas perawatan.

3.   Pemberian bantuan PMT pabrikan  cenderung menciptakan ketergantungan dan menghambat kemandirian keluarga anak balita gizi kurang dan gizi.

4.   Program penanggulangan anak balita gizi kurang dan gizi buruk belum dilakukan secara terpadu, bersinergi, berkelanjutan, dan berkemitraan, serta belum tercipta kerja-sama yang baik dengan lintas program dan lintas sektor.

5.   Program bersifat top-down sehingga  tidak secara aktif melibatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program

Persoalan diatas perlu ditindaklanjuti dengan upaya bersama yang melibatkan lintas-program dan lintas-sektor, serta berbasis prakarsa dan pemberdayaan masyarakat yang peduli dengan masalah gizi anak. Partisipasi masyarakat merupakan konsep kebijakan yang memiliki daya tarik dan mempesonakan karena terkait dengan sustainabilitas dan efisiensi dari program kesehatan. Jika diletakkan pada konteks sumber tenaga yang terbatas terutama di pedesaan dan daerah terpencil, ia dapat menjadi strategi utama dan terpenting yang harus digunakan manajer fasilitas kesehatan.

Konsep  pembentukan  Pos  Pemulihan  Gizi  atau  Community Feeding  Center  (CTC)  adalah  konsep inovatif yang memobilisasi masyarakat  untuk memantau dan mendukung pelayanan kesehatan setempat untuk cepat dan efektif juga membantu orang-orang dengan kekurangan gizi akut di sekitar mereka. Masyarakat  diharapkan  dapat memobilisasi  kemampuan yang ada disekitarnya  untuk penanggulangan Gizi  Buruk.  Bila  terjadi karena faktor kemiskinan keluarga yang mampu bisa menjadi orang tua asuh, mencari peluang kerja untuk orang tuanya. Berbagai sektor pemerintahan dengan berbagai program dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan bisa  dipadukan. Jumlah Pos Pemulihan Gizi ini masih terbatas jumlahnya bila dapat dikembangkan lebih banyak lagi di daerah diharapkan punya daya ungkit pada status gizi balita.

1. Komentar Social Movement-Molyadi KMPK

Partisipasi masyarakat merupakan konsep kebijakan yang memiliki daya tarik dan mempesonakan karena terkait dengan sustainabilitas dan efisiensi dari program kesehatan. Jika diletakkan pada konteks sumber tenaga yang terbatas terutama di pedesaan dan daerah terpencil, ia dapat menjadi strategi utama dan terpenting yang harus digunakan manajer fasilitas kesehatan

Tugas _SocialMovement3_PertanyaanKritis_Nilasari_Kesling2015

Social movement dapat dikatakan satu gerakan yang tidak hanya untuk mendorong tapi juga menghambat suatu segi perubahan sosial dalam masyarakat yang dapat diinialisasi oleh perorangan atau kelompok informal, dengan latar belakang tujuan yang sama, social movement bergerak untuk menyelesaikan isu-isu sosial atau politik dengan mendukung, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.

Terbesit pertanyaan, bagaimana jika social movement justru menghambat perubahan sosial? Dan terkadang banyak ide yang dapat direalisasikan namun faktanya tidak berjalan dengan efektif karena kurangnya SDM? Bagaimana menanggapi hal ini Pak. Terimakasih.

Tugas _SocialMovement2_ArtikelKesayangan_Nilasari_Kesling2015


 

PERAN FOTOGRAFER SEBAGAI AKTOR GERAKAN SOSIAL LINGKUNGAN HUTAN BAKAU DI DENPASAR SELATAN

 

 

Hutan bakau sebagai salah satu isu lingkungan global yang menarik untuk dikaji. Hutan merupakan salah satu ekosistem lautan dan pesisir yang sangat potensial bagi kesejahteraan masyarakat dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.  Saat ini terdapat gerakan sosial  lingkungan  dilakukan oleh  fotografer sebagai media komunikasi untuk berinteraksi dengan  masyarakat. Partisipasi  terutamanya  masyarakat  yang peduli  terhadap  lingkungan  lebih  bisa mengapresiasikan diri dengan adanya lomba - lomba yang dilaksanakan  oleh  komunitas fotografi, dalam hal ini bukan saja lomba yang dilaksanakan  melainkan workshop.

Menurut saya artikel ini sangat menarik dan dapat memotivasi orang lain untuk melakukannya, karena seharusnya kita sebagai manusia bisa membayangkan bagaimana  pentingnya  hutan  bagi kelangsungan  hidup  bagi  dirinya  sendiri  dan orang lain, terlebih saat ini media sosial dengan jaman yang semakin canggih terkait alat untuk mengambil gambar jika kita menggunakannya secara bijak tanpa merusak lingkungan, menurut saya itu salah satu strategi untuk berpartisipasi menyelamatkan lingkungan.

 

Sumber :

 

Deviantari, I., Ranteallo, I. C., & Kamajaya, G. (2015). Peran Fotografer Sebagai Aktor Gerakan Sosial Lingkungan Hutan Bakau Di Denpasar Selatan. Jurnal Ilmiah Sosiologi (Sorot), 1(03).

Tugas _SocialMovement1_Nilasari_Kesling2015

Social movement pertama kali diperkenalkan pada tahun 1848 oleh sosiolog jerman, Lorenz von stein dalam buku "Socialist and communist movements since the third French revolution" yang menggambarkan perjuangan kesetaraan hak sosial dan kesejahteraan.

Saat ini banyak gerakan sosial di bidang lingkungan yang bercirikan social movement atau biasa disebut environmental movement, mereka memiliki program-program yang bertautan erat dengan isuIingkungan salah satunya adalah gerakan konsumen hijau, Elkahai telah berhasil mendidik sejumlah motivator yang akan menjadi agen dari penyebaran gagasan mengenai pola konsumsi dan produksi hijau. Di bidang kesehatan, Lessan telah melakukan upaya sosialisasi penggunaan cara pengobatan tradisional dalam kerangka meningkatkan kesehatan masyarakat pedesaan secara mandiri. Upaya itu antara lain dilakukan melalui pendidikan dan publikasi mengenai jenis-jenis tanaman obat dan cara meramunya sebagai alternatif dari obat-obat modern.

Tugas Social Movement Assignment 3_ Anna Dwiana Kesling 2015

Terkait social Movement, yang menjadi pertanyaan saya adalah terkadang respon masyarakat terkait gerakan-gerakan sosial yang dilakukan oleh sebuah organisasi cenderung rendah, langkah apa yang dapat dilakukan sekiranya dapat membuat mereka lebih berpartisipasi dalam kegiatan tersebut?

Tugas Social Movement Assignment 2_Anna Dwiana Kesling 2015

Efektivitas Media Sosial Untuk Gerakan Sosial Pelestarian Lingkungan
 
Alasan saya menyukai artikel ini sebab sangat berkaitan erat dengan pemasalahan serius yang dihadapi oleh dunia saat ini yaitu perubahan iklim, pemanasan global yang sangat membutuhkan perhatian dari semua manusia. Di dalam artikel ini menjelaskan tentang peranan sebuah Media Sosial yang digunakan sebagai sarana untuk kampanye gerakan sosial pelestarian lingkungan. Organisasi ini bernama KeSeMat yang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi melalui aktivitas online maupun offline terkait pelestarian lingkkungan, dan dari media sosial tersebut diharapkan dapat memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada masyarakat untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial dalam pelestarian lingkungan.
 
Kapriani, D. R., & Lubis, D. P. (2015). Efektivitas Media Sosial untuk Gerakan Sosial Pelestarian Lingkungan. SODALITY: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 8(3).

Tugas_ArtikelKesayanganke-2_Nilasari_Kesling2015

KAMPUNG ORGANIK DALAM RANGKA MENDUKUNG

PROGRAM KOTA MAGELANG SEJUTA BUNGA

 

Kampung organik merupakan kampung yang dalam kehidupan rutin sehari-hari, setiap warga melestarikan alam lingkungan dengan baik dan benar, baik itu lingkungan biotik, abiotik, sanitasi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Selain itu, warga juga membudidayakan sistem pertanian organik dalam skala rumah tangga dan skala kawasan, masyarakatnya sudah mengelola sistem penampungan air hingga pemilahan dan pengelolaan sampah yang meliputi reduce, reuse, dan recycle.

Menurut saya, artikel ini sangat menarik dan dapat menginspiransi daerah lain untuk melakukannya, selain sebagai suatu gerakan untuk menyelamatkan lingkungan, manusia yang merupakan salah satu sumber sampah, setiap rumah tangga perlu ikut berperan dalam menangani sampah, jika dilakukan bersama dengan segenap masyarakat, upaya menangani sampah dapat memberi manfaat yang besar bagi kebersihan lingkungan dan kesehatan masyarakat, karena, melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi.

 

Sumber :

Raliby, O., & Rusdjijati, R. (2015). Kampung Organik Dalam Rangka Mendukung Program Kota Magelang Sejuta Bunga.


Tugas Sosial Movement Assignment 1_Anna Dwiana Kesling 2015

Di saat ini kita sedang dihadapkan dengan permasalahan lingkungan, terlebih lagi dengan adanya perubahan iklim yang sedang dirasakan oleh berbagai negara tanpa terkecuali Indonesia, hal ini tidak lain disebabkan oleh aktivitas manusia yang menghasilkan gas rumah kaca dimana menjadi sumbangsi terhadap kejadian perubahan iklim tersebut, berbagai macam upaya untuk meminimalisir hal tersebut telah dilakukan oleh berbagai organisasi contohnya yaitu BLH (Badan Lingkungan Hidup), LSM, dan lainnya yang melakukan gerakan penanaman seribu pohon guna mengurangi terjadinya pemanasan global yang merupakan salah satu akibat dari perubahan iklim, gerakan ini memiliki tujuan sekiranya masyarakat lebih memiliki rasa cinta terhadap lingkungan, sebab kita seharusnya sadar bahwa jika keseimbangan ekosistem alam terganggu maka kemungkinan akan memberikan dampak yang begitu besar pada kehidupan kita, bisa dilihat contohnya seperti bencana alam dan sebagainya. Untuk itulah banyak organisasi yang beramai-ramai melakukan kegiatan cinta lingkungan dengan berbagai macam kegiatan yang dilakukan.

Tugas 3_Artikel Kesayangan_Anna Dwiana Kesling 2015

Artikel : Selective primary health care an interim strategy for disease control in developing countries. (http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0160799580900349)
Alasan saya menyukai artikel ini karena di dalamnya memuat  strategi dalam menanggulangi berbagai macam kasus penyakit yang ada di negara-negara berkembang dengan biaya intervensi medis yang terjangkau, dengan adanya program perawatan kesehatan primer selektif, di harapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Salah satu contoh intervensi yang dilakukan adalah seperti dorongan untuk menyusui dari ibu seperti ASI Ekslusif, yang tentunya sangatlah efektif dan efisien, selain itu intervensi dilakukan berdasakan kebutuhan dan perkembangan pada negara-negara berkembang.

Tugas 2_ Efektivitas dan Efisiensi Program_Anna Dwiana Kesling 2015

Dalam pengalaman saya selama melakukan penyuluhan maupun praktek belajar lapangan, banyak hal yang saya temui dalam sebuah kebijakan program yang dibuat oleh pemerintah daerah maupun kota yang menurut saya sangatlah tidak efektif dan efisien, salah satu contohnya adalah program pemerintah yang dilakukan pada daerah pemukiman masyarakat pesisir di sebuah pulau bernama Saponda yang terletak di provinsi Sulawesi Tenggara,dimana salah satu program yang dibuat adalah pengadaan tempat penampungan air bersih. Alasan yang mendasari dibuatnya program ini yaitu susahnya masyarakat setempat untuk memperoleh air bersih dan tidak adanya penampungan yang cukup. Sehingga dilaksanakanlah pembuatan tower-tower penampungan air pada beberapa titik yang ada di pulau tersebut, namun beberapa tahun kemudian hal yang terjadi justru semakin mendatangkan masalah baru sebab tower yang dijadikan tempat untuk penampungan air tersebut tidak digunakan lagi oleh masyarakat, bahkan dibiarkan begitu saja dan yang lebih parahnya tower tersebut menjadi tempat bersarangnya nyamuk.
Dari keadaan tersebut saya berpendapat bahwa program yang dibuat tidak efektif karena tidak berdampak baik untuk masyarakat bahkan sebaliknya justru membuat masalah baru yang bisa saja tower yang tidak digunakan menjadi sarang nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit malaria atau DBD dan tentunya akan menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat setempat, selain itu progam tersebut tidaklah efisien sebab anggaran yang dikeluarkan untuk pembuatan tower tersebut memakan biaya produksi yang tidaklah sedikit, dan tentunya sangatlah disayangkan bahwa dengan anggaran besar yang dikeluarkan untuk membuat program tersebut justru hanya sia-sia dan tak berjalan sebagaimana mestinya. Menurut saya hal yang kurang diperhatikan oleh pemerintah adalah bagaimana cara mensosialisasikan program yang akan dibuat kepada masyarakat, dan seharusnya keterlibatan dari semua elemen masyarakat yang ada di pulau tersebut harus diikut sertakan, sehingga tidak asal membuat program saja akan tetapi masyarakat juga harus mengetahui cara mengoperasikannya, merawatnya, dan sebagainya apalagi kita ketahui bahwa sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah pesisir khususnya pulau Saponda memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan kondisi ekonomi menengah kebawah sehingga hal ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap program yang dibuat. Sehingga menurut saya hal yang seharusnya dilakukan adalah bagi para pengambil kebijakan haruslah memiliki kemampuan manajemen yang baik karena seorang pengambil kebijakan tidak hanya terpusat pada pembuatan program sebanyak-banyaknya namun bagaimana cara agar program tersebut dapat dilaksanakan secara baik dan tentunya harus efektif dan efisien

Tugas 1_Komentar Terkait Perkuliahan_Anna Dwiana Kesling 2015

Menurut saya mata kuliah umum yang diberikan seperti kebijakan dan manajemen kesehatan sangatlah perlu bagi mahasiswa dan mahasiswi kesehatan masyarakat, karena seorang ahli kesehatan masyarakat tentu tidak terlepas dari yang namanya kebijakan-kebijakan kesehatan yang ada baik itu mereka yang telah bekerja di birokrasi pemerintah, perusahaan swasta dan sebagainya yang bergerak pada bidang kesehatan, sehingga untuk dapat berperan aktif dalam sebuah kebijakan dan mampu manajemen dengan baik, sangatlah dibutuhkan skill yang baik pula, sebab dalam menjalankan sebuah program kita difokuskan tidak semata-mata pada bagaimana program itu dapat dilaksanakan namun kita harus mengetahui pula apakah program yang dibuat adalah benar-benar yang sangat fital atau dibutuhkan oleh masyarakat, sehingga hal ini tentu sangat berkaitan erat dengan keahlian dalam manajemen yang baik.

PENERAPAN PERDA TERHADAP MASALAH GIZI BURUK DI INDONESIA

Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi sebagai dampak dari berkurangnya kurang gizi dapat dilihat dari dua sisi, pertama berkurangnya biaya berkaitan dengan kematian dan kesakitan dan di sisi lain akan meningkatkan produktivitas. Paling kurang manfaat ekonomi yang diperoleh sebagai dampak dari  perbaikan status gizi adalah: berkurangnya kematian bayi dan anak balita, berkurangnya biaya perawatan untuk neonatus, bayi dan balita, produktivitas  meningkat karena berkurangnya anak yang menderita  kurang gizi dan adanya peningkatan kemampuan intelektualitas, berkurangnya biaya karena penyakit kronis  serta meningkatnya manfaat "intergenerasi" melalui peningkatan kualitas kesehatan.  
Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur,  bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi pada status gizi pada periode
siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact). Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh  kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan.
Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil  ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah.
            Pemerintah harus dapat memperhatikan masalah gizi di Indonesia, karena masalah gizi merupakan masalah yang penting, dan memiliki dampak yang sangat berarti bagi kemajuan suatu Negara. Apalagi permasalahan gizi terdapat pada ibu hamil dan anak balita, maka hal tersebut merupakan hal yang buruk, karena hal tersebut merupakan salah satu peningkatan dan penentu SDM di Inodensia, hendaknya permasalahan gizi di Inodoneisia harus segera di basmi.
            Masih adanya kasus gizi buruk di Indonesia, sebagian besar karena disebabkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi masih kurang. Dan Perlu adanya renewing oranisasi pada permasalahan gizi di Indonesia, agar permasalahan gizi di Indonesia dapat terselesaikan.











 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kebijakan Pemerintah tentang permasalahan gizi di Indonesia harus dapat di ubah, karena sistem pada penanganan gizi masih kurang maksimal. Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur,  bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi pada status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact). Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. Besar dan luasnya masalah gizi pada setiap kelompok umur menurut siklus kehidupan dan saling berpengaruhnya masalah gizi kepada siklus kehidupan (intergenerational impact), maka diperlukan kebijakan dan strategi baru perbaikan gizi di setiap siklus kehidupan.
Faktor geografis dan demografi. Lebih dari 50% penduduk tinggal di daerahperdesaan dan daerah sulit. Untuk meningkatkan  pelayanan gizi dan pemantauan pertumbuhan pada masyarakat sasaran yang sulit dijangkau dengan fasilitas pelayanan yang ada seperti puskesmas dan posyandu, perlu ada upaya khusus
untuk mendekatkan pelayanan kepada kelompok ini. Mengatasi situasi ini upaya pemenuhan kesehatan dan gizi melalui program jaring pengaman sosial masih perlu mendapat prioritas, misalnya pemberian supplementasi gizi yang tepat sasaran, tepat waktu dengan mutu yang baik, perlu mendapat prioritas.
            Melakukan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara profesional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. Terutama di daerah terpencil dan tertinggal.
Tantangan utama masalah gizi adalah untuk meningkatkan dan memperluas kualitas dan cakupan intervensi gizi spesifik, dan untuk memaksimalkan sensitivitas gizi intervensi pada pelaksanaan program Pemerintah serta adanya penanganan di masyarakat di laksanakan secara maksimal. Beberapa hal seperti pertanian, perlindungan sosial, serta air dan sanitasi juga hal yang harus diperhatikan. Tapi tingkat ketiga merupakan salahsatu hal yang penting, karena berkaitan dengan lingkungan dan proses yang mendukung dan membentuk proses politik dan kebijakan tentang permasalahan gizi di Indonesia.
 
Oleh : Yulfitri
 
 
 
 
Daftar Pustaka
-       Gillespie, S., Haddad, L., Mannar, V., Menon, P., Nisbett, N., & Maternal and Child Nutrition Study Group. (2013). The politics of reducing malnutrition: building commitment and accelerating progress. The Lancet, 382(9891), 552-569.
 
-       Septiana, R., Djannah, S. N., & Djamil, M. D. (2013). HUBUNGAN ANTARA POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DAN STATUS GIZI BALITA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GEDONGTENGEN YOGYAKARTA. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health), 4(2).