PENERAPAN PERDA TERHADAP MASALAH GIZI BURUK DI INDONESIA

Secara umum dapat dikatakan bahwa peningkatan ekonomi sebagai dampak dari berkurangnya kurang gizi dapat dilihat dari dua sisi, pertama berkurangnya biaya berkaitan dengan kematian dan kesakitan dan di sisi lain akan meningkatkan produktivitas. Paling kurang manfaat ekonomi yang diperoleh sebagai dampak dari  perbaikan status gizi adalah: berkurangnya kematian bayi dan anak balita, berkurangnya biaya perawatan untuk neonatus, bayi dan balita, produktivitas  meningkat karena berkurangnya anak yang menderita  kurang gizi dan adanya peningkatan kemampuan intelektualitas, berkurangnya biaya karena penyakit kronis  serta meningkatnya manfaat "intergenerasi" melalui peningkatan kualitas kesehatan.  
Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur,  bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi pada status gizi pada periode
siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact). Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh  kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan.
Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil  ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah.
            Pemerintah harus dapat memperhatikan masalah gizi di Indonesia, karena masalah gizi merupakan masalah yang penting, dan memiliki dampak yang sangat berarti bagi kemajuan suatu Negara. Apalagi permasalahan gizi terdapat pada ibu hamil dan anak balita, maka hal tersebut merupakan hal yang buruk, karena hal tersebut merupakan salah satu peningkatan dan penentu SDM di Inodensia, hendaknya permasalahan gizi di Inodoneisia harus segera di basmi.
            Masih adanya kasus gizi buruk di Indonesia, sebagian besar karena disebabkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi masih kurang. Dan Perlu adanya renewing oranisasi pada permasalahan gizi di Indonesia, agar permasalahan gizi di Indonesia dapat terselesaikan.











 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kebijakan Pemerintah tentang permasalahan gizi di Indonesia harus dapat di ubah, karena sistem pada penanganan gizi masih kurang maksimal. Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur,  bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi pada status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact). Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas SDM di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam kandungan. Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah. Besar dan luasnya masalah gizi pada setiap kelompok umur menurut siklus kehidupan dan saling berpengaruhnya masalah gizi kepada siklus kehidupan (intergenerational impact), maka diperlukan kebijakan dan strategi baru perbaikan gizi di setiap siklus kehidupan.
Faktor geografis dan demografi. Lebih dari 50% penduduk tinggal di daerahperdesaan dan daerah sulit. Untuk meningkatkan  pelayanan gizi dan pemantauan pertumbuhan pada masyarakat sasaran yang sulit dijangkau dengan fasilitas pelayanan yang ada seperti puskesmas dan posyandu, perlu ada upaya khusus
untuk mendekatkan pelayanan kepada kelompok ini. Mengatasi situasi ini upaya pemenuhan kesehatan dan gizi melalui program jaring pengaman sosial masih perlu mendapat prioritas, misalnya pemberian supplementasi gizi yang tepat sasaran, tepat waktu dengan mutu yang baik, perlu mendapat prioritas.
            Melakukan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara profesional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal. Terutama di daerah terpencil dan tertinggal.
Tantangan utama masalah gizi adalah untuk meningkatkan dan memperluas kualitas dan cakupan intervensi gizi spesifik, dan untuk memaksimalkan sensitivitas gizi intervensi pada pelaksanaan program Pemerintah serta adanya penanganan di masyarakat di laksanakan secara maksimal. Beberapa hal seperti pertanian, perlindungan sosial, serta air dan sanitasi juga hal yang harus diperhatikan. Tapi tingkat ketiga merupakan salahsatu hal yang penting, karena berkaitan dengan lingkungan dan proses yang mendukung dan membentuk proses politik dan kebijakan tentang permasalahan gizi di Indonesia.
 
Oleh : Yulfitri
 
 
 
 
Daftar Pustaka
-       Gillespie, S., Haddad, L., Mannar, V., Menon, P., Nisbett, N., & Maternal and Child Nutrition Study Group. (2013). The politics of reducing malnutrition: building commitment and accelerating progress. The Lancet, 382(9891), 552-569.
 
-       Septiana, R., Djannah, S. N., & Djamil, M. D. (2013). HUBUNGAN ANTARA POLA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DAN STATUS GIZI BALITA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GEDONGTENGEN YOGYAKARTA. Jurnal Kesehatan Masyarakat (Journal of Public Health), 4(2).
 
 
 

No comments:

Post a Comment