SITI MASTUTI
1. Mengapa tertarik dengan materi kuliah Determinan Sosial Kesehatan
Menyimak dari apa yang disampaikan Dosen dalam materi perkuliahan ilmu sosial dan perilaku, banyak hal-hal yang terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat yang menyangkut determinan sosial kesehatan, sangat menarik untuk di kaji. Beberapa problem di sekitar tempat tinggal kita, dapat di ambil sebagai salah satu bahan kajian dari determinan sosial kesehatan di Indonesia. Memberi pemahaman baru bahwa kejadian-kejadian yang menimpa seseorang, atau menimpa sebuah kelompok di masyarakat, terjadi tidak dengan sendirinya sebagai sebuah kesalahan invidu itu sendiri, atau sebagai kesalahan kelompok, melainkan terjadi karena adanya faktor-faktor yang saling berhubungan, dan tidak dapat disalahkan adanya kejadian-kejadian tersebut, oleh karena interaksi selalu terjadi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian-kejadian di masyarakat (yang disebut dengan determinan sosial) yang berdampak terhadap derajat kesehatan masyarakat, diantaranya : faktor penduduk, faktor pelayanan kesehatan, faktor perilaku, dan faktor lingkungan.
2. Contoh problem terkait Determinan sosial kesehatan di masyarakat.
"Sampah di tempat kost mahasiswa"
Sebagai seorang mahasiswa, sesekali coba kita melihat di lingkungan sekitar tempat tinggal kita, terutama bagi yang tidak kost, atau di tempat kita menyewa rumah sebagai tempat tinggal sementara bagi pendatang (kost). Dalam satu atau dua hari, masing-masing dari kita dipastikan membuang sesuatu yang tidak berguna dalam ujud sampah. Berbagai jenis sampah dari kamar kost kita, bisa kita keluarkan, mulai dari sampah sisa makanan sarapan, sampah kertas yang tidak kita pakai karena salah print, kertas pembungkus makanan, koran bekas, sampah plastik dan benda-benda kaca, kayu, dan jenis logam (mungkin), hingga limbah berbahaya. Pernahkah sampah yang kita buang itu, kita pisahkan terlebih dulu dari masing-masing jenisnya?
Bagi seseorang yang peduli dengan keselamatan lingkungan, mungkin sudah mulai memikirkan untuk memisahkan setiap jenis sampah yang kita akan buang. Tetapi siapa yang tahu, jika jauh di dalam alam pikirannya, barangkali juga terbersit "...siapa yang peduli, di pilah atau tidak, bukankah nanti ada seorang pemulung yang akan melakukannya? Ini adalah contoh dari satu orang, di antara beribu-ribu penghuni kamar kost di seluruh dunia, yang memiliki kepedulian, meskipun masih tampak keraguan pada saat akan bersikap terhadap sampah miliknya. Bagaimana halnya dengan seseorang dari beribu-ribu orang lainnya, yang tidak pernah berpikir dulu sebelum membuang sampah di tangannya ke tempat sampah?
Saat kita sudah berada di dekat tempat yang akan kita gunakan sebagai tempat sampah, apa yang terjadi? Apakah masih ada detik-detik akhir untuk berpikir memisahkannya? Bagaimana jika masih ada waktu, dan bagaimana jika sudah tidak lagi dipikirkan, langsung saja buang? Kemudian tak pernah di pikirkan nanti siapa yang memilih dan memilahnya? Adakah benda tajam yang membahayakan pemulung? Atau adakah benda berharga yang akan membuat pemulung menjadi terbelalak dan berseru kegirangan karena menemukan sesuatu yang berharga? Atau tak ada sesuatu pun yang tersisa manfaatnya, hanya sampah?
Apa yang terjadi di luar kamar atau di luar rumah kita, dengan sampah-sampah yang di hasilkan dari hari-ke hari, apabila tidak ada kepedulian kita semua. Bagaimana perilaku orang yang membuang sampah, pihak yang memindahkan sampah ke tempat lain (TPA dan atau gudang barang rongsok), dan tempat lainnya yang dijadikan tempat membuang sampah (tertentu) atau pembuangan sampah secara liar (pekarangan kosong, sungai, dan jalan-jalan umum). Ribuan kubik sampah tampak menggunung, mengganggu keindahan, membuat bau tak sedap, dan menyebabkan bahaya bagi lingkungan sekitar (rawan longsor, banjir, penyakit, dll).
Bayangkan jika kita saja yang sekarang menjadi mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat tidak pernah berpikir tentang hal ini, tidak pernah tergerak untuk memulai, dan tidak pernah berkeinginan membuat sebuah kegiatan bersama di lingkungan kost untuk peduli lingkungan. Bagaimana masyarakat juga akan tergugah untuk peduli sampah. Ada baiknya, mulailah dari saat ini, jika kita akan membuang sampah dari kamar kita, terlebih dahulu kita memilih dan memilah sampahnya, sebelum sampah-sampah kita buang.
Tentu menjadi hal yang membingungkan juga apabila kita sudah memilahnya ternyata tempat sampah yang kita temukan tidak ada perbedaan kegunaan. Semua sampah menjadi satu di tempat pembuangan sampah di depan kita. Apa yang akan kita perbuat?
3. Artikel Kesayangan : Judul Artikel : "Pengelolaan Sampah"
Dalam pandangan social determinan of health (SDH), pengalaman dan informasi tentang pengelolaan sampah adalah sebuah masalah yang tidak kunjung usai di perdebatkan. Siapa yang salah, siapa yang peduli, siapa yang mengadili jika terjadi sesuatu bencana akibat sampah. Pengelolaan sampah seharusnya sudah di mulai sejak dari lingkungan terkecil di tiap rumah, hingga ketika saat sampah tersebut sampai di bagian pengelolaan sampah akhir, sudah dapat di identifikasi perlu tidaknya daur ulang dilakukan. Pengelolaan sampah sudah sampai dibahas di tingkat nasional bahkan internasional. Pengalaman tentang apakah sampah itu, juga dapat menjadi salah satu topik diskusi yang akan menyerap semua argumen yang ada, dan semuanya selalu beralasan dan selalu ingin di benarkan.
Artikel ini menarik karena pembahasan di ulas secara urut, dimulai dari penjelasan mengenai terminologi yang terkait dengan limbah, bagaimana limbah terbentu dari sebuah proses produksi, penggolongan sampah serta permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia. Konsep Kawasan Industri Sampah (KIS) pada tingkat kawasan dengan sasaran meminimalkan sampah yang akan di angkut ke TPA, sebanyak mungkin telah melibatkan Swadaya Masyarakat dalam mendaur ulang sampahnya. Konsep ini sudah pernah di coba di beberapa kawanan di Ibukota Jakarta, berupa Usaha Daur Ulang dan Produksi Kompos, yang di mulai pada tahun 1991. Namun konsep ini tidak dapat berjalan lancar, karena ketidaksiapan, mulai dari bagaimana merubah pola pikir dan cara pandang pihak pengelola Kota setempat dalam penanganan sampah. Konsep sejenis juga di perkenalkan oleh BPPT dengan "Zerowaste". Secara teknis, tingkat keberhasilan program dalam penerapan konsep-konsep cerdas tentang pengelolaan sampah, akan sangat tergantung pada bagaimana memilah dan memilih sampah sedini mungkin, dari rumah-rumah, pemisahan kompartemen gerobak pengangkut hingga tahap pemrosesan di TPA.
Dalam pencarian dukungan konsep pengelolaan sampah, hendaknya pemerintah kabupaten dan propinsi dapat membantu menyelesaikan masalah social determinan tersebut.
Disampaikan bahwa penggunaan teknologi terkait dengan pengemasan produksi, peran produsen untuk menggunakan pengemas dalam pemasaran produknya hendaknya di atur dengan Undang-undang. Sebagai pengendalian terhadap bahaya pencemaran yang timbul dan penatalaksanaan residu atau limbah yang muncul akibat penggunaan produk-produk tersebut oleh masyarakat.di beberapa negara maju, peran dan tanggungjawab produsen di masukkan pada pasal-pasal dalam undang-undang terkait, yang pada akhirnya dapat memberikan hasil yang bermakna dan bermanfaat bagi masayarakat itu kembali dalam pengelolaan sampah. Ini perlu di tiru.
Daftar Pustaka:
Damanhuri, E., & Padmi, T. (2010). Pengelolaan Sampah. ITB: Bandung.
Catatan:
Tulisan ini sebagai tugas mata kuliah Ilmu Sosial dan Perilaku dengan topik "Social Determinant of Healh".
Info UGM:
The International Conference on Science and Technology 2015, 11-13 November 2015
http://icst.ugm.ac.id/
No comments:
Post a Comment