Salah satu kebijakan dari Pemerintah Kota Singkawang yang menurut saya menarik adalah Tabulin (Tabungan Ibu Bersalin) yang diklola oleh Bidan Praktek Swasta. Program ini ditujukan bagi ibu-ibu hamil agar mereka bisa memiliki persediaan dana yang cukup untuk persalinan dengan jalan menabung setiap bulannya dengan bidan tersebut. Besaran tabungan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat setempat. Durasi untuk menabung pun disesuaikan dengan kesepakatan bersama. Bisa 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali.
Namun belakangan ini, terlebih sejak era BPJS, program ini tidak berjalan lagi karena masyarakat merasa tidak lagi membutuhkan tabungan ibu bersalin. Masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kartu BJPS pada saat melahirkan atau mengakses layanan kesehatan. Selain itu, sudah tidak banyak lagi bidan yang mau melaksanakan program ini dengan alasan kesibukan mereka. Terkadang juga, adanya ketidak terbukaan soal besaran tabungan, serta dokumentasi yang tidak lengkap antara kedua pihak setelah tabulin berjalan juga bisa memicu konflik antara bidan dan pasiennya.
Akibatnya, masyarakat tidak percaya pada tenaga kesehatan sebagai pengelola tabulin. Karena itulah, program ini kurang berhasil diterapkan di lingkungan masyarakat. Padahal, jika kebijakan ini berhasil, maka keluhan soal biaya persalinan juga bisa diatasi dengan tabungan bersalin tersebut. Bahkan, bisa mengurangi Angka Kematian Ibu akibat dari terlambat memperoleh akses pelayanan kesehatan akibat dari ketiadaan dana.
By Yulia Farahdini
No comments:
Post a Comment