Siti Mastuti
Pertanyaan Kritis "Rational Choice dan fenomena Maksimasi/Free Rider
di Layanan Kesehatan RS
Dalam Rational choice theory dikatakan bahwa perilaku adalah pilihan individual. Orang memilih tindakan sesuai dengan apa yang paling menguntungkan dirinya. Prinsip ini disebut sebagai MAKSIMASI.
Prinsip maksimasi membuat seseorang selalu menilai situasi yang ada dan kepentingan pribadi yang bisa dia gunakan dari sebuah situasi. Kepentingan pribadi yang tercermin dari tujuan-tujuan mana yang terungkap, pilihan manfaat yang paling tinggi dari konteks sebuah perilaku. Perilaku yang ekstrim berupa fenomena penumpang gelap atau free rider, yang intinya mencari kesempatan gratis.
Tertarik dengan kalimat dalam makalah
MAKSIMASI, FREE RIDER DAN KEGAGALAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
Mubasysyir Hasanbasri, Program Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan UGM
Yang tertulis sebagai berikut :
"..Ketika melihat catatan
singkat tentang "pelanggan marah", "pasien menunggu
lama dan menggerutu", atau "udara panas" cukup
untuk dicatat dalam kolom kejadian...
Pengawasan yang tetap akan memunculkan kesempatan untuk melakukan penyimpangan, kalimat ini sangat berkaitan dengan dunia pelayanan kesehatan. Kalau di waktu yang lalu, acapkali kita baca di koran, kita dengar di dalam siaran televisi atau kita dengar langsung dari tetangga tentang kualitas pelayanan RS Pemerintah yang kurang baik. Bisa jadi sekarang masih sering di jumpai meskipun tak sebanyak jumlah keluhan tentang pelayanan kurang maskimal itu pada saat ini. Apa masalahnya?
Apakah karena kepentingan akreditasi, sehingga pelayanan RS pemerintah sekarang lebih baik di banding yang dulu? Atau, RS pemerintah dan seluruh jajarannya sudah mendapatkan pelatihan Emotional Spiritual Quotient? Atau para pelaku profesional kesehatan di RS Pemerintah sudah menyadari bahwa melayani bukan sekedar basa-basi, tetapi memang penting terkait dengan Patient Safety dan hak pasien dan Keluarga untuk mendapatkan pelayanan optimal?
Contoh "Maksimasi" dalam Pelayanan RS
Dalam parameter Akreditasi RS versi JCI, terdapat 16 jenis Pelayanan, di antaranya adalah Hak pasien dan keluarga. Di dalam mengaplikasikan pelayanan terkait dengan Hak, telah di atur pedoman pelaksanaan tentang bagaimana komunikasi berjalan efektif, penggunaan fasilitas penunjang kenyamanan (AC, CCTV, Televisi, ruang khusus bagi Ibu menyusui, dan Hotspot area). Penyediaan beberapa sarana yang saya sebut di atas, mungkin bukanlah hal yang terlalu mewah bagi RS Pemerintah, karena saat ini alat-alat dan fasilitas tersebut ternyata sudah disediakan juga oleh RS Pemerintah, dan mungkin juga beberapa RS swasta. Kesemuanya ini dealam arah maksud dan tujuan yang sama, yaitu untuk menciptakan kenyamanan bagi Pelanggan RS (internal maupun eksternal).
Dalam menciptakan kenyamanan fasilitas fisik bagi pelanggan RS, adakalanya oleh karena adanya kepentingan internal RS, gangguan terhadap fasilitas tersebut di atas kerapkali menjadi sasaran kemarahan pelanggan eksternal. Masuk akal saja, jika kita melihat berbagai fasilitas terbaik yang disiapkan RS ternyata tidak berfungsi maksimal. Misalnya, adanya Air Conditioner di sebuah ruang tunggu. Dimana akan sangat berpengaruh terhadap kenyamanan pengunjung RS pada saat mereka sedang menunggu antrian di bukanya jadwal bezuk, dengan kapasitas ukuran ruang yang tidak memadai, dibanding dengan jumlah pengunjung RS yang padat pada waktu tertentu, maka keberadaan fasilitas AC di ruang tersebut akan terasa tidak maksimal, panas dan membuat gerah pengunjung. Apalagi jika di antara pengunjung adalah orang-orang yang tidak pernah berada dalam suasana panas sebuah ruangan. Namun, ketidaknyamanan karena ruangan panas, kemungkinan sebab bukan karena jumlah orangnya banyak dalam ruang tersebut. Bisa jadi, penyebab AC tidak bekerja dengan baik, adalah karena tidak ada kontrol dalam proses perbaikan dan pemeilharaan AC tersebut di RS. RS hanya dapat menyediakan fasilitas, tidak disertai dengan penyediaan tenaga ahlli untuk perbaikan dan pemeliharaan. Sehingga perlu memanggil teknisi dari luar pada saat terjadi masalah. Hal ini seringkali di manfaatkan oleh para teknisi untuk memainkan peran MAKSIMASI dalam proses pelayanan perbaikan. Mereka barangkali dalam memperbaiki sarana, hanya memindah-mindah komponen dari barang-barang yang sudah tidak berfungsi, di fungsikan dengan teknik KANIBAL. Dengan demikian, maka mereka akan mendapatkan keuntungan maksimal, karena tidak ada komponen baru yang ahrus mereka beli, alat sudah dapat difungsikan kembali.
Sebenarnya, komplain-komplain terkait dengan pelayanan sebaiknya segera di tindaklanjuti oleh pihak RS, seberapa pun kecilnya jumlah keluhan. Namun, kerapkali pihak RS berdalih bahwa program perbaikan fasilitas RS sudah dibuatkan, sudah adan anggaran khusus dan orang khusus yang mengerjakan. Jika terbukti masih saja keluhan terhadap salah satu contoh masalah masih sering terjadi, barangkali perlu di pertimbangkan jika RS perlu menyediakan tenaga ahli untuk perbaikan alat-alat penunjang tersebut, yang kemudian di rekrut sebagai pergawai organik RS tersebut, sehingga keluhan pelanggan akan dapat berkurang, dan ada penghematan dari sisi penyediaan anggaran perbaikan dan pemeliharaan.
Daftar Pustaka
Hasanbasri, M. (2012, March). Maksimasi, Free Rider, dan Kegagalan Implementasi Kebijakan. In Artikel Seminar.
Arneson, R. J. (1982). The principle of fairness and free-rider problems. Ethics, 616-633.
Info UGM:
The International Conference on Science and Technology 2015, 11-13 November 2015
http://icst.ugm.ac.id/
No comments:
Post a Comment