Harry Fauzi KPMAK 2015

Tugas Jurnal Social Movement

Health care reform and social movements in the United States.

Jurnal ini menarik membahas bagaimana pergerakan sosial rakyat amerika menginginkan reformasi pelayanan kesehatan. Rakyat amerika mengkritik dan melakukan social movement pada sistem pelayanan kesehatan di Amerika menuju ke Universal Health Coverage. Gerakan sosial ini berhasil memobilisasi rakyat yang dilakukan oleh :

1.      Kelompok buruh dari pekerja pabrik

2.      Kelompok sipil

3.      Kelompok perempuan

4.      Kelompok aktivis HIV AIDS

Gerakan sosial ini menghasilkan tuntutan terhadap pelayanan kesehatan untuk mengadopsi pada sistem pelayanan kesehatan yang dapat mengcover seluruh penduduk atau universal health coverage.

Referensi :

Hoffman, B. 2003. Health care reform and social movements in the United States. American Journal of Public Health, 93(1), 75-85.

Apakah Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif sudah optimal ? - Oleh Nabila Zulfa/SIMKES2015

Mata Kuliah : Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Pendidik       : Dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
Tugas Renewing Organization
 
Apakah Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif sudah optimal ?

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Di negara berkembang, saat melahirkan dan minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode kritis bagi ibu dan bayinya. Sekitar dua per tiga kematian terjadi pada masa neonatal, dua per tiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu pertama, dan dua per tiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi pada hari pertama Banyak tindakan yang relatif murah dan mudah diterapkan untuk meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir. Salah satunya adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir atau biasa disebut inisiasi menyusu dini serta pemberian ASI EksklusifHal ini didukung oleh pernyataan United Nations Childrens Fund (UNICEF), bahwa sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia pada tiap tahunnya, bisa dicegah melalui pemberian.
ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi. Edmond (2006) juga mendukung pernyataan UNICEF tersebut, bahwa bayi yang diberi susu formula, memiliki kemungkinan atau peluang untuk meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya 25 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Sehingga inisiasi menyusu dini diyakini mampu mengurangi risiko kematian balita hingga 22%.
Begitu banyak penelitian dan survey yang menyatakan manfaat dan keuntungan dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) serta pemberian ASI Eksklusif baik bagi ibu, bagi bayi, juga bagi keluarga dan masyarakat, namun ironisnya cakupan kedua praktek menyusui tersebut yaitu Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif masih sangat rendah.  Banyak aspek yang mempengaruhi pelaksanaan praktek Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif antara lain adalah ibu menyusui menghadapi banyak hambatan yang berhubungan dengan pelayanan yang diperoleh di tempat persalinan dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga di rumah, banyaknya ibu yang belum dibekali pengetahuan yang cukup tentang teknik menyusui yang benar dan manajemen kesulitan laktasi termasuk tantangan yang dihadapi oleh ibu bekerja, selain itu praktek pemberian ASI Eksklusif juga diketahui banyak dipengaruhi oleh budaya dan norma yang berkembang dikalangan anggota keluarga, rekan dan masyarakat secara umum.
Keberhasilan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) juga sangat dipengaruhi oleh sikap, pengetahuan dan motivasi bidan/dokter penolong persalinan itu sendiri Hal ini didukung pula oleh pernyataan Siregar A (2004), bahwa keberhasilan menyusu dini banyak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku petugas kesehatan (dokter, bidan, perawat) yang pertama kali membantu ibu selama proses persalinan. Selain itu keberhasilan ibu menyusui juga harus didukung oleh suami, keluarga, petugas kesehatan dan masyarakat. Oleh karena itu sikap dan perilaku petugas kesehatan khususnya bidan yang didasari pengetahuan tentang IMD, ASI Eksklusif sebelumnya, besar pengaruhnya terhadap keberhasilan praktek IMD dan ASI Eksklusif itu sendiri. Selain faktor ibu dan faktor petugas kesehatan, sosialisasi serta dukungan politis pemerintah baik pusat maupun daerah sangatlah penting dalam keberhasilan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif tersebut. Selama ini dukungan yang diberikan baik dari WHO maupun dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah terhadap peningkatan pemberian ASI Eksklusif sebenarnya telah memadai.

Renewing Organization Program Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif :
-     Memasukkan kegiatan konseling ASI dalam agenda layanan harian dan menyediakan pojok laktasi di setiap puskesmas
-        Diadakannya pelatihan Fasilitator ASI  untuk meningkatkan pelayanan konseling ASI
-      Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta mulai mengembangkan layanan menjadi Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi
-   Diadakannya berbagai aktivitas komunikasi untuk peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif
 
Dalam upaya meningkatkan keberhasilan program Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif  :
-     Kebijakan merupakan variabel yang sangat berpengaruh terhadap program IMD dan ASI Eksklusif, untuk itu, walaupun sudah ada Perda tersendiri untuk program ini, harus dibuat turunannya dari perda tersebut yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Dan ditujukan kepada kepala RS/RSIA/Puskesmas bahkan kepada bidan untuk menjalankan program IMD dan ASI Eksklusif tersebut.
-    Perlu dibuat kebijakan-kebijakan yang lebih bersifat teknis seperti juklak, juknis serta protap karena dengan adanya kebijakan teknis tersebut, maka baru bisa mengajukan anggaran.
-       Perlu dipikirkan adanya saksi/punishment atau reward kepada bidan yang melakukan dan tidak melakukan IMD /ASI Eksklusif, sehingga hal ini bisa memotivasi bidan untuk lebih serius dalam menjalankan program ini
-     Perlu disosialisasikan pada bidan tentang anggaran yang dapat digunakan oleh bidan dalam melaksanakan IMD dan ASI Eksklusif bisa melalui IBI, serta perlu adanya perbaikan dalam komunikasi, tata cara dan frekuensi dalam sosialisasi.
-       Perlu adanya enabling environment sehingga perilaku bidan berubah, sehingga kebijakan bisa lebih difokuskan lagi.
-    Perlu terbentuknya community peer conselor yang dibangun sehingga dapat mendorong adanya kebiasaan pada bidan maupun masyarakat untuk selalu melakukan IMD dan ASI Eksklusif.
 
Referensi :

Azwar, A., Sistem Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta, 2004
 
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat Jakarta, 2014.
 
 
Oleh :
Nabila Zulfa
NIM. 15/388168/PKU/15390
Minat : SIMKES 2015
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

tugas ISP artikel kesayangan Determinan Sosial- Octaldina Iswardani-GK

tugas ISP artikel kesayangan Determinan Sosial- Octaldina Iswardani-GK

tugas ISP artikel kesayangan Determinan Sosial- Octaldina Iswardani

tugas ISP artikel kesayangan Determinan Sosial- Octaldina Iswardani

Tugas Social Movement Tarubat Boston - SIMKES

Social movement mendukung implementasi sistem portal pasien di U.S.


Saya tertarik dengan artikel ini karena berisi adanya suatu bentuk social movement yang mendukung pengembangan suatu bentuk sistem informasi kesehatan yaitu portal pasien(yang dapat didefenisikan sebagai catatan kesehatan elektronik pribadi yang ditambatkan ke catatan kesehatan elektronik institusional) yang diakui sebagai mekanisme yang menjanjikan untuk mendukung keterlibatan pasien yang lebih besar.

Sebenarnya portal pasien telah diperkenalkan dan diadopsi oleh beberapa organisasi perawatan kesehatan besar di akhir 1990-an (misalnya, MyChart di Yayasan Medis Palo Alto dan Indivo di Rumah Sakit Anak di kota Boston) . Namun, portal pasien tidak dapat digunakan secara luas sampai tahun 2006 ketika bertepatan dengan beberapa inisiatif, termasuk peluncuran ePHRs (electronic personal health record) oleh Microsoft dan Google, pemberian kontrak Centers for Medicare dan Medicaid Services (CMS) untuk perusahaan-perusahaan swasta untuk melakukan studi kelayakan ePHRs menggunakan data klaim yang ada dari program Medicare, dan pengumuman Blue Cross dan Blue Shield Association dan Rencana Asuransi Kesehatan Amerika untuk mengembangkan program berbagi data yang pada akhirnya akan mendukung pembangunan ePHRs. Inisiatif ini juga bertepatan dengan gerakan sosial (Social Movement) yang luas terhadap adopsi dan penggunaan sehari-hari dari informasi dan berbagi alat komunikasi yang kuat seperti smartphone dan media sosial, yang menggambarkan kesiapan masyarakat umum untuk merangkul teknologi dengan cara sosial interaktif baru.


Referensi:

Irizarry, T., Dabbs, A. D., & Curran, C. R. (2015). Patient Portals and Patient Engagement: A State of the Science Review. Journal of medical Internet research, 17(6).

Nabila Zulfa - SIMKES

Mata Kuliah Ilmu Sosial dan Perilaku
Pendidik : Dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

Tugas Artikel Social Movement

Johnson, Ashley. "Social development of primary aged children through a movement education program." (2011).
Di dalam artikel ini menjelaskan adanya program gerakan berbasis pendidikan tambahan setiap minggunya berupa tari kreatif, senam pendidikan dan permainan perkembangan yang digunakan untuk meningkatkan pengembangan sosial secara optimal. Sehingga keuntungan anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar.
Gerakan ini merupakan Gerakan Sosial karena mempunyai ciri-ciri seperti :
1. Ada upaya kolektif melakukan perubahan
2. Adanya organisasi sebagai wadah gerakan
3. Gerakan tersebut melembaga serta memiliki gagasan alternatif perubahan
4. Aktivitas dan gerakannya terus-menerus
5. Memiliki identitas kolektif sebagai ciri
6. Gerakan dilakukan sekelompok orang
7.  Memiliki visi, misi, tujuan, ide, nilai sosial
8.  Mempertahankan, merubah, merebut, mengontrol, dan menjalankan kehidupan sosial
9. Dilakukan secara sistematis dan terorganisir
10. Memiliki identitas kolektif dan alternatif perubahan

Oleh karena itu pentingnya pendidikan bagi anak untuk membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar sosial serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.

Catatan :
Tugas ini merupakan tugas artikel mengenai Social Movement untuk mata kuliah Ilmu Sosial dan Perilaku.

Asmaul Husna KMPK 2015

Tugas Renewing Organisasi 

Program Global Eliminasi Filariasis dengan pengobatan Massal selama 5 tahun

 

Filariasis atau yang lebih dikenal dengan penyakit kaki gajah masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.  Filariasis adalah penyakit infeksi kronis menahun yang disebabkan oleh infeksi nematoda dari famili filariodeae. Salah satu cara yang dilaksanakan untuk memutuskan mata rantai penularan filariasis adalah dengan program pengobatan massal filariasis atau Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis selama 5 tahun

 

Pengobatan massal filariasis adalah strategi memutus rantai penularan filariasis  terhadap semua penduduk di daerah endemis filariasis, secara serentak bersamaan dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, setiap tahun selama minimal lima tahun berturut- turut (Ullyartha, 2005 dalam purnomo, et al, 2015).

 

Pengobatan massal bertujuan untuk mematikan mikrofilaria yang ada di dalam darah penduduk, sehingga dapat memutus rantai penularan filariasis (Depkes RI, 2006 dalam purnomo et al, 2015). Pengobatan massal dilaksanakan di daerah endemis filariasis yaitu daerah dengan microfilaria rate ≥ 1 % dengan unit pelaksananya kabupaten/kota.

 

Upaya pelaksanaan program menurut Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (PPBB) pada pertemuan Stakeholder Program Eliminasi Filariasis, Pengendalian Kecacingan dan Schistosomiasis di Hotel Borobudur Jakarta (11 Agustus 2015) hingga saat ini telah mencapai berbagai kemajuan dan keberhasilan yang cukup berarti, walaupun masih terkendala oleh beberapa masalah, antara lain : 1) belum terlaksananya POMP Filariasis di semua kabupaten/kota sehingga belum berhasil menurunkan angka mikrofilaria setelah pelaksanaan POMP 5 tahun; 2) Pada daerah dengan angka mikrofilaria dan kepadatan penduduk yang tinggi, POMP Filariasi menimbulkan reaksi pengobatan yang cukup mempengaruhi cakupan pengobatan; 3) Masih kurangnya pemahaman daerah terhadap kebijakan sasaran unit pelaksanaan POMP Filariasis (IU); dan 4) masih sedikitnya peran serta atau dukungan dari lembaga Donor baik lokal maupun internasional dalam program Eliminasi Filariasis.) Masih banyak kabupaten/kota terkendala belum melaksanakan POMP Filariasis karena keterbatasan anggaran dan sumber daya lain. bahkan beberapa kabupaten kota tidak berhasil menjaga kesinambungan pelaksanaan POMP Filariasis terhenti di tengah jalan, sehingga tidak mencapai target yaitu minimal 5 tahun berturut-turut.  (http://btkljogja.or.id)

 

Berdasarkan permasalahan diatas untuk program eliminasi filariasis ini agar bisa dilaksanakan dengan efektif dan efisien memerlukan renewing organisasi

 

 

                       

                                                                                                                

 

 

 

 

Kesimpulan :

 

Dengan dilakukannya renewing organisasi melalui system kontrak tenaga kesehatan salah satu masalah bisa teratasi yaitu dari segi kekurangan sumber daya manusia, sehingga daerah – daerah yang kekurangan sumber daya manusia kesehatan tetap bisa melaksanakan program pengobatan massal secara serentak untuk menurunkan angka penderita  dan memutuskan penularan filariasis.

 

 

Referensi :

 

1.    Purnomo, I., & Hidayati, S. (2015). PENGARUH FAKTOR PENGETAHUAN DAN PETUGAS KESEHATAN TERHADAP KONSUMSI OBAT KAKI GAJAH (FILARIASIS) DI KELURAHAN BLIGO KECAMATAN BUARAN KABUPATEN PEKALONGAN. Pena Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi, 28(1).

2.    Santoso, S., Yenni, A., Oktarina, R., & Wurisastuti, T. (2015). Effectiveness of two rounds of mass drug administration using DEC combined with albendazole on the prevalence of Brugia malayi. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 18(2 Apr), 161-168.

3.    http://btkljogja.or.id, Pertemuan Stakeholder Program Eliminasi Filariasis, Pengendalian Kecacingan dan Schistosomiasis. Rabu, 03 September 2014

 

 Catatan : Tulisan ini merupakan tugas MK Kebijakan dan Manajemen                                 Pelayanan Kesehatan tentang  Renewing Organisasi



Salam :

Asmaul Husna KMPK 2015 

NIM :15/388069/PKU/18430