Apakah Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif sudah optimal ? - Oleh Nabila Zulfa/SIMKES2015

Mata Kuliah : Kebijakan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Pendidik       : Dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
Tugas Renewing Organization
 
Apakah Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif sudah optimal ?

Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Di negara berkembang, saat melahirkan dan minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode kritis bagi ibu dan bayinya. Sekitar dua per tiga kematian terjadi pada masa neonatal, dua per tiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu pertama, dan dua per tiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi pada hari pertama Banyak tindakan yang relatif murah dan mudah diterapkan untuk meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup bayi baru lahir. Salah satunya adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah lahir atau biasa disebut inisiasi menyusu dini serta pemberian ASI EksklusifHal ini didukung oleh pernyataan United Nations Childrens Fund (UNICEF), bahwa sebanyak 30.000 kematian bayi di Indonesia dan 10 juta kematian anak balita di dunia pada tiap tahunnya, bisa dicegah melalui pemberian.
ASI secara eksklusif selama enam bulan sejak tanggal kelahirannya, tanpa harus memberikan makanan serta minuman tambahan kepada bayi. Edmond (2006) juga mendukung pernyataan UNICEF tersebut, bahwa bayi yang diberi susu formula, memiliki kemungkinan atau peluang untuk meninggal dunia pada bulan pertama kelahirannya 25 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang disusui oleh ibunya secara eksklusif. Sehingga inisiasi menyusu dini diyakini mampu mengurangi risiko kematian balita hingga 22%.
Begitu banyak penelitian dan survey yang menyatakan manfaat dan keuntungan dari Inisiasi Menyusu Dini (IMD) serta pemberian ASI Eksklusif baik bagi ibu, bagi bayi, juga bagi keluarga dan masyarakat, namun ironisnya cakupan kedua praktek menyusui tersebut yaitu Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif masih sangat rendah.  Banyak aspek yang mempengaruhi pelaksanaan praktek Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif antara lain adalah ibu menyusui menghadapi banyak hambatan yang berhubungan dengan pelayanan yang diperoleh di tempat persalinan dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga di rumah, banyaknya ibu yang belum dibekali pengetahuan yang cukup tentang teknik menyusui yang benar dan manajemen kesulitan laktasi termasuk tantangan yang dihadapi oleh ibu bekerja, selain itu praktek pemberian ASI Eksklusif juga diketahui banyak dipengaruhi oleh budaya dan norma yang berkembang dikalangan anggota keluarga, rekan dan masyarakat secara umum.
Keberhasilan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) juga sangat dipengaruhi oleh sikap, pengetahuan dan motivasi bidan/dokter penolong persalinan itu sendiri Hal ini didukung pula oleh pernyataan Siregar A (2004), bahwa keberhasilan menyusu dini banyak dipengaruhi oleh sikap dan perilaku petugas kesehatan (dokter, bidan, perawat) yang pertama kali membantu ibu selama proses persalinan. Selain itu keberhasilan ibu menyusui juga harus didukung oleh suami, keluarga, petugas kesehatan dan masyarakat. Oleh karena itu sikap dan perilaku petugas kesehatan khususnya bidan yang didasari pengetahuan tentang IMD, ASI Eksklusif sebelumnya, besar pengaruhnya terhadap keberhasilan praktek IMD dan ASI Eksklusif itu sendiri. Selain faktor ibu dan faktor petugas kesehatan, sosialisasi serta dukungan politis pemerintah baik pusat maupun daerah sangatlah penting dalam keberhasilan program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif tersebut. Selama ini dukungan yang diberikan baik dari WHO maupun dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah terhadap peningkatan pemberian ASI Eksklusif sebenarnya telah memadai.

Renewing Organization Program Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif :
-     Memasukkan kegiatan konseling ASI dalam agenda layanan harian dan menyediakan pojok laktasi di setiap puskesmas
-        Diadakannya pelatihan Fasilitator ASI  untuk meningkatkan pelayanan konseling ASI
-      Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta mulai mengembangkan layanan menjadi Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi
-   Diadakannya berbagai aktivitas komunikasi untuk peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif
 
Dalam upaya meningkatkan keberhasilan program Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif  :
-     Kebijakan merupakan variabel yang sangat berpengaruh terhadap program IMD dan ASI Eksklusif, untuk itu, walaupun sudah ada Perda tersendiri untuk program ini, harus dibuat turunannya dari perda tersebut yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Dan ditujukan kepada kepala RS/RSIA/Puskesmas bahkan kepada bidan untuk menjalankan program IMD dan ASI Eksklusif tersebut.
-    Perlu dibuat kebijakan-kebijakan yang lebih bersifat teknis seperti juklak, juknis serta protap karena dengan adanya kebijakan teknis tersebut, maka baru bisa mengajukan anggaran.
-       Perlu dipikirkan adanya saksi/punishment atau reward kepada bidan yang melakukan dan tidak melakukan IMD /ASI Eksklusif, sehingga hal ini bisa memotivasi bidan untuk lebih serius dalam menjalankan program ini
-     Perlu disosialisasikan pada bidan tentang anggaran yang dapat digunakan oleh bidan dalam melaksanakan IMD dan ASI Eksklusif bisa melalui IBI, serta perlu adanya perbaikan dalam komunikasi, tata cara dan frekuensi dalam sosialisasi.
-       Perlu adanya enabling environment sehingga perilaku bidan berubah, sehingga kebijakan bisa lebih difokuskan lagi.
-    Perlu terbentuknya community peer conselor yang dibangun sehingga dapat mendorong adanya kebiasaan pada bidan maupun masyarakat untuk selalu melakukan IMD dan ASI Eksklusif.
 
Referensi :

Azwar, A., Sistem Kesehatan, Binarupa Aksara, Jakarta, 2004
 
Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat, Direktorat Gizi Masyarakat Jakarta, 2014.
 
 
Oleh :
Nabila Zulfa
NIM. 15/388168/PKU/15390
Minat : SIMKES 2015
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

No comments:

Post a Comment