Pekerjaan Kurang Perhitungan (Mubazir)

Imam Hambali
Pekerjaan Kurang Perhitungan (Mubazir)

Dalam rangka meningkatkan status kesehatan di Kabupaten Bengkulu Utara, Pemerintah Daerah kian gencar melakukan berbagai upaya. Salah satunya yaitu dengan meningkatkan sarana dan prasaran kesehatan berupa bangunan fisik dan alat-alat kesehatan (Alkes). Namun sangat disayangkan bahwa pembangunan gedung/bangunan dan alkes seringkali tidak mempertimbangan kemanfaatan dan efektifitas-efisiensinya. Pembangunan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) misalnya, banyak dijumpai bangunan Poskesdes dibangun di tempat-tempat yang tidak strategis. Poskesdes dibangun di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk sehingga masyarakat sulit untuk menjangkaunya. 
 
Bahkan ada Poskesdes dibangun di ujung desa yang jauh dari pemukiman dan bersebelahan dengan pemakaman umum sehingga petugas kesehatan enggan menempati Poskesdes karena merasa takut. Poskesdes yang dibangun dengan biaya yang besar itu akhirnya kosong tidak ada petugasnya. Dalam hal pengadaan Alkes dapat diasumsikan bahwa proyek pengadaan Alkes lebih berorientasi pada profit dan bukan berorientasi pada kebutuhan dan manfaat. Sering dijumpai adanya keluhan-keluhan dari petugas di tingkat Puskesmas yang menyayangkan pengadaan suatu Alkes yang sebenarnya tidak/belum diperlukan, sementara Alkes yang diperlukan justru tidak diadakan. 
 
Misal pengadaan Incenerator, selaian harganya mahal alat tersebut tidak cocok/comptable karena ia harus menggunkan Genset sebagai Power Suplay-nya dan menggunakan solar sebagai bahan bakarnya. Ditambah lagi kinerja alat tersebut dalam melakukan pembakaran sampah medis hanya dapat menghancurkan/membakar komponen plastik dan tidak dapat menghancurkan komponen logam seperti jarum spuit sehingga petugas harus menuntaskan pekerjaan dengan mengambil sisa-sisa pembakaran yang tidak tuntas untuk dikuburkan. Dalam satu kali proses pembakaran (kapasitas ± 2 kg sampah) memerlukan waktu pembakaran selama ± 1 jam dan memerlukan waktu pendinginan pasca pembakaran selama ± 3 jam tentu hal ini akan menyulitkan bagi petugas. Dan faktanya alat yang dibeli dengan biaya mahal tersebut akhirnya tidak digunakan, menjadi besi tua yang tidak terurus dan terbengkalai alias Mubazir. Sementara peralatan yang diperlukan seperti Tensi Meter malah justru tidak diadakan atau diadakan dalam jumlah sedikit sehingga tidak mencukupi kebutuhan seluruh Puskesmas.

Catatan: Tulisan singkat ini adalah contoh kebijakan/program yang tidak efektif sebagai tugas Mata Kuliah Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan

No comments:

Post a Comment