RIMAWATI AULIA INSANI SADARANG_FETP 2015

TUGAS 1
(Tanggapan terhadap perkuliahan ke-5)

Perkuliahan kali ini bagi saya merupakan sebuah brainstorm dalam merencanakan sebuah kebijakan. Secara teori, perencanaan sebuah kebijakan selalu diawali dengan proses agenda setting dan diakhiri dengan proses evaluasi, tetapi kali ini dosen (Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA) memberikan sebuah pandangan yang berbeda. Menurut beliau, dalam merencanakan sebuah kebijakan baiknya dimulai dari evaluasi kebijakan yang sudah ada sebelumnya untuk mencari kekurangan kebijakan tersebut dan menjawab kekurangan kebijakan tersebut pada kebijakan yang akan dibuat selanjutnya. Proses feedback inilah yang seringkali dilupakan dalam membuat kebijakan sehingga terkesan kebijakan yang baru akan saling tumpang tindih dengan kebijakan yang sudah ada dan kekurangan kebijakan sebelumnya bisa terjadi lagi pada kebijakan yang baru sehingga sulit mencapai outcome yang diharapkan.
Proses pembuatan sebuah kebijakan yang melalui beberapa tahapan oleh beliau tidak harus dilakukan sesuai dengan urutan tahapan tersebut. Beliau memberi contoh dari proses perencanaan kebijakan pembangunan rumah susun oleh gubernur Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. Beliau memaparkan bahwa "keberanian" seorang manajer dalam memutuskan (proses pembuatan) sebuah kebijakan adalah ujung tombak dari efektivitas, efisiensi dan sustainabilitas dari kebijakan tersebut.
Secara umum, saya mendapatkan sebuah pelajaran penting dari perkuliahan ini, yaitu "Be Brave to Out of Box". Berani bukan hanya sekadar berani, keberanian untuk mengambil keputusan dan bertindak berbeda dari biasanya saja tidak cukup, harus dibarengi dengan pemikiran/perencanaan yang matang dan usaha keras agar tindakan berani tersebut tidak berujung pada kata "gegabah".

 Ditulis oleh : Rimawati Aulia Insani Sadarang, FETP 2015



TUGAS 2
(Tanggapan terhadap outcome sebuah kebijakan)
Program Pemkot Makassar : Lihat Sampah Ambil (LISA)

 "LISA" (Lihat Sampah Ambil) merupakan salah satu bagian dari program kebersihan andalan pemkot Makassar dibawah kepemimpinan walikota baru, Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto. Program ini diharapkan dapat menjawab masalah sampah di kota Makassar. Sesuai dengan nama program ini, "Lihat Sampah Ambil", outcome yang diharapkan adalah masyarakat ketika melihat sampah langsung mengambil dan membuangnya ke tempat sampah.
Serangkaian upaya untuk mencapai outcome program ini telah dilakukan, mulai dari kampanye melalui stiker, spanduk, dan baliho, pengadaan sarana untuk membuang sampah, sampai pada pembersihan parit (selokan). Pada awal implementasi, upaya seperti pembersihan parit (selokan) malah membuat masalah baru, yakni tumpukan sampah yang berada di pinggir jalan yang berasal dari sampah yang diangkat dari parit (selokan). Setahun pasca program ini diimplementasikan, belum ada perubahan yang berarti dari segi perilaku masyarakat tetapi sudah terlihat peningkatan jumlah kendaraan pengangkut sampah yang beroperasi dan jumlah tempat sampah di sekitar trotoar.
Mengingat outcome program ini adalah perilaku masyarakat yang tidak dapat diubah dalam waktu yang singkat maka diperlukan usaha untuk menjaga keberlanjutan (sustainabilitas) dari program ini, seperti kampanye yang diiringi dengan perubahan perilaku stakeholder sesuai dengan outcome program sebagai role model bagi masyarakat, manajemen mobilisasi kendaraan pengangkut sampah dan manajemen pengambilan sampah dari tempat sampah yang telah disediakan di sekitar trotoar, sehingga outcome program ini dapat tercapai.

Ditulis oleh : Rimawati Aulia Insani Sadarang, FETP 2015



TUGAS 3
(Artikel Kesayangan)
Judul Artikel : "Evaluating the efficiency of participatory epidemiology to estimate the incidence and impacts of foot-and-mouth disease among livestock owners in Cambodia"
Bellet C, Vergne T, Grosbois V, Holl D, Roger F, Goutard F. Evaluating the efficiency of participatory epidemiology to estimate the incidence and impacts of foot-and-mouth disease among livestock owners in Cambodia. Acta Trop [Internet]. 2012 Jul [cited 2015 Oct 14];123(1):31–8. Available from: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0001706X12001623
Saya memilih artikel tersebut karena melalui artikel ini saya dapat memahami penggunaan epidemiologi sebagai tool dalam mengidentifikasi dan memecahkan sebuah masalah (kesehatan). Sebagai tool, epidemiologi dituntut fleksibel untuk dapat diterapkan pada semua kajian masalah kesehatan, tetapi bukan berarti penggunaan epidemiologi sebagai tool tidak memiliki hambatan.
Melalui artikel ini pula saya dapat lebih mengerti akan efektivitas dari sebuah "data" dalam epidemiologi. Pengumpulan data secara partisipatif (participatory epidemiology) bisa berimplikasi pada penaksiran yang sangat tinggi akan kejadian sebuah masalah kesehatan (overestimate) dari kenyataan yang sebenarnya, seperti yang terjadi pada kasus dalam artikel ini. Oleh karena itu, epidemiologi sebagai tool harus digunakan dengan teliti dan pelaksanaan participatory epidemiology  dapat menjawab kebutuhan akan data yang terbatas dan pada kasus dalam artikel ini, hasil participatory epidemiology digunakan untuk  mengidentifikasi pengeluaran ekonomi dari manajemen risiko penyakit menular yang dilakukan oelh peternak, menyusun prioritas untuk pengendalian dan eradikasi penyakit.
Ditulis oleh : Rimawati Aulia Insani Sadarang, FETP 2015



No comments:

Post a Comment