Inriyani Takesan KMPK

1.     Tanggapan untuk kuliah:

Jika pemimpin berani seperti Ahok, proses pembuatan kebijakan tidak menghabiskan banyak biaya untuk hanya merumuskan kebijakan saja. Pertanyaan saya, sosok pemimpin seperti Ahok tidak sebanyak pemimpin Indonesia pada umumnya. Bagaimana membuat atau membentuk para pemimpin di bidang kesehatan saat ini yang 'sudah terpola' dengan sikap yang bertolak belakang dari Ahok sehingga pelayanan kesehatan dikelola tanpa menghabiskan banyak dana khususnya dana dari donor, menjadi pelayanan yang efektif?  

2.     Artikel kesayangan:

An implementation evaluation of a policy aiming to improve financial access to maternal health care in Djibo district, Burkina Faso
Belaid and Ridde, BMC Pregnancy and Childbirth 2012, 12:143

Artikel jurnal ini menarik karena membahas kesulitan yang ditemukan dalam implementasi kebijakan subsidi untuk ibu hamil. Analisis gap implementasi menunjukan bahwa equity dan quality pelayanan harus diperhatikan. Kebijakan ini seharusnya menjawab persoalan justru terhambat karena sejak pengisian data, tenaga kesehatan sudah mengalami kesulitan. Mereka tidak memahami beberapa elemen dalam form.

Kemudian, dalam buku pedoman tertulis bahwa setiap pertolongan persalinan harus tersedia obat dan perbekalan, tidak jelas obat dan perbekalan apa yang dimaksud namun perbekalan esensial seperti sarung tangan saja sangat terbatas. Ketersediaan obat dan perbekalan serta peralatan mempengaruhi kualitas pelayanan; jumlah ambulans untuk merujuk ibu yang hendak bersalin terbatas, reimburse biaya transportasi juga tertunda lama padahal ini sangat penting dalam proses implementasi; selain itu, hubungan antara penyedia pelayanan kesehatan dengan pasien yang kurang baik karena ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan khususnya dalam pembiayaan pelayanan kesehatan yang tidak sepenuhnya gratis.
       
3.     Program pemerintah yang efektif/ tidak efektif:
Program kemitraan dukukungan AIPMNH di Nusa Tenggara Timur.
Program kemitraan ini untuk menurunkan AKI dan AKB di NTT. Sejak program ini diimplementasikan, jumlah kematian ibu mengalami penurunan. Sayangnya akhir-akhir ini terlihat mulai stagnan, bahkan angka kematian bayi meningkat. Sehingga menurut saya program ini mulai tidak efektif. Perbaikan layanan kesehatan belum merata sampai ke daerah pelosok. Hal ini berkaitan erat dengan komitmen pemerintah daerah untuk membuat 'gerakan' revolusi (KIA) yang sustainable, tidak selalu bergantung pada dukungan kemitraan. Kebijakan sudah ada, namun bagaimana kreativitas untuk mengimplementasikannya?

No comments:

Post a Comment