Colvin, C. J., & Robins, S. (2009). Social movements and HIV/AIDS in South Africa. In HIV/AIDS in South Africa 25 Years On (pp. 155-164). Springer New York from http://download.springer.com/static/pdf/690/bok%253A978-1-4419-0306-8.pdf?originUrl=http%3A%2F%2Flink.springer.com%2Fbook%2F10.1007%2F978-1-4419-0306-8&token2=exp=1448878150~acl=%2Fstatic%2Fpdf%2F690%2Fbok%25253A978-1-4419-0306-8.pdf%3ForiginUrl%3Dhttp%253A%252F%252Flink.springer.com%252Fbook%252F10.1007%252F978-1-4419-0306-8*~hmac=465a7d6b0deb8f215c1a09135c744a9a2e4e3a3c53ac76e0ad91211cb7065a46
Saya suka artikel ini, pada Bab 11 membahas gerakan sosial yang dikembangkan untuk mengatasi berbagai krisis HIV / AIDS. Salah satu gerakan sosial HIV / AIDS paling transformatif di Afrika Selatan adalah Treatment Action Campaign (TAC). Gerakan sosial ini pada kenyataannya menjadi ikon aktivisme AIDS di Afrika Selatan dan juga salah satu gerakan sosial yang paling terlihat muncul setelah berakhirnya apartheid.
TAC didirikan pada tanggal 10 Desember 1998 ketika sekelompok orang sekitar lima belas orang protes di tangga St George's Cathedral di Cape Town untuk menuntut pengobatan medis bagi orang yang hidup dengan HIV. Pada hari terakhir, para demonstran telah mengumpulkan lebih dari seribu tanda tangan menyerukan pemerintah untuk mengembangkan perencanaan pengobatan untuk semua orang yang hidup dengan HIV. Keanggotaan TAC telah tumbuh secara dramatis dalam dekade sejak didirikan. Anggotanya terdiri dari terutama Afrika perkotaan, orang muda, sebagian besar wanita dan pengangguran, dan pelajar sekolah menengah. Namun, organisasi ini juga telah berhasil menarik kelas menengah profesional kesehatan, wartawan, akademisi, mahasiswa serta mengumpulkan dukungan dari sejumlah besar organisasi masyarakat sipil. Menggambar pada budaya politik dan strategi mobilisasi gerakan anti-apartheid seperti Demokratik Inggris Depan (UDF), TAC sangat sukses memobilisasi dukungan berbagai ras, etnis dan kelas di masyarakat.
Gerakan ini melakukan beberapa hal, yaitu :
a. Pemberantasan stigma negatif tentang pengidap HIV/AIDS dan mengupayakan penyediaan dukungan bagi mereka yang terkena dampak.
b. Membangun gerakan sosial yang luar biasa untuk menghadapi kekuatan politik terhadap pengobatan HIV dan keengganan pemerintah Afrika Selatan selama bertahun-tahun dalam menyediakan antiretroviral (ARV) untuk Odha.
c. Segera setelah berdirinya di tahun 1998, TAC, bersama-sama dengan pemerintah Afrika Selatan, terlibat dalam pertempuran hukum yang panjang dengan Perusahaan Farmasi Internasional yang memiliki hak paten memproduksi obat AIDS dan mengharuskan impor obat generik murah untuk mengobati jutaan orang HIV-positif miskin di negara-negara berkembang. Akibat dari sangat sukses kampanye global dan nasional oleh TAC dan sekutunya melalui media, membuat industri farmasi global mundur dan memungkinkan negara-negara berkembang untuk memproduksi obat generik ARV.
d. Menyadarkan banyak pihak tentang pentingnya pengobatan terhadap ODHA. Mereka mendorong para dokter yang selama ini tunduk kepada tekanan politik dan tidak memberikan pelayanan yang benar kepada pasien.
e. Mereka aktif bicara di jalan - jalan, media, dan kepada para pengambil keputusan serta profesional. Bahkan mereka masuk ke area hukum, bekerja sama dengan lembaga hukum untuk menuntut perusahaan farmasi yang tidak pro terhadap pengobatan masyarakat miskin.
f. Pada Tahun 2001 Organisasi ini juga aktif mendorong pencegahan penularan HIV dari Ibu ke anak. Yang sudah diadopsi oleh Indonesia yaitu Program Pencegahan Mother-To-Child Transmission (PMTCT) pada tahun 2011.
g. Organisasi ini juga mendorong ada kebijakan secara konstitusi tentang akses ke perawatan kesehatan bagi penderita HIV/AIDS
Disebutkan bahwa Faktor kunci dalam keberhasilan TAC dalam melobi dan menekan pemerintah Afrika Selatan adalah :
1. Memobilisasi masyarakat dari bawah karena mereka menyadarkan masyarkat akan Hak, Kewarganegaraan dan 'Globalisasi dari bawah'. mobilisasi ini terjadi melalui kesadaran dan melek pengobatan kampanye AIDS di sekolah-sekolah, pabrik, pusat-pusat komunitas, gereja, shebeen (tempat resmi / minum ilegal) dan rumah di kota-kota. Ada keterlibatan strategis di tingkat lokal yang terlibat memobilisasi dan mendidik masyarakat miskin dan kelas pekerja sekitar isu-isu HIV serta menggunakan pengadilan untuk menantang 'trials' dan pemasaran obat ilmiah yang belum teruji sebagai 'obat AIDS' di kota-kota.
2. Membangun gerakan sosial di masyarakat
TAC terkenal mampu berperang dengan dunia politik dan hukum, dan memiliki kontribusi yang besar terhadap kebijakan - kebijakan yang medukung masyarakat. Hal itu menginspirasi masyarakat membuat gerakan serupa yang lebih tidak formal dii masyarakat. Gerakan tersebut juga menjadi bagian dari keberhasilan TAC karena telah berhasil membuat gerakan berbasis masyarakat.
Catatan :
Tulisan ini saya buat sebagai tugas mata kuliah Ilmu Sosial dan Perilaku.
No comments:
Post a Comment